RADIOLOGYNET X RAY

X Ray akut abdomen
X Ray Colon In Loop
X Ray esophagus
X Ray OMD
Thorax X Ray Click
Bone Survey Click
BNO IVP Stone
BNO IVP Ureterolitiasis
OMD images
Panoramik Teknik
Anfis Vertebrae
Anfis SPN Click
Radiografi Mandibula
Proposal TBR
Surat Ijin Tindakan

RADIOLOGI CT SCAN

CT Abdomen
CT Post Trauma
CT TTB Clisk
Komponen CT Scan
CT Thyroid
CT Scan CKB
CT 3 Phase
Angio Renalis
Fisika CT Scan
CT Vertebrae
Brain CT Scan
Cervical CT Scan

RADIOLOGYNET MRI

MRI case AVM
Parameter MRI
Brain MRI click
Parameter Brain

ULTRASOUND

Apa Itu Ultrasound
Istilah Ultrasound 1
Istilah Ultrasound 2
Istilah Ultrasound 3
Istilah Ultrasound 4

CHEST X RAY

Tentang Chest X Ray
Klinis Chest X Ray
Chest X Ray PA
Chest X Ray Lateral
Chest X Ray Non kooperatif

TELERADIOLOGY

Teleradiologi click
Teleradiologi RS
Kedokteran Nuklir

Hot Radiologynet

Prosedur Teknik Pemeriksaan CT Scan Kepala,

logo radiologynet(Nuttawan Jaengsri, 2004)

Prosedur adalah urutan dari rangkaian pemeriksaan yang harus diikuti. Prosedur teknik pemeriksaan CT Scan meliputi, persiapan pasien, posisi pasien, scout view, menentukan parameter scan yang tepat, sampai mendapatkan kualitas gambar CT Scan yang baik.

1. Adapun prosedur pemeriksaan CT Scan kepala, meliputi :

- Persiapan Pasien : berikan penjelasan kepada pasien tentang prosedur pemeriksaan, jika diperlukan injeksi media kontras dianjurkan bagi pasien untuk puasa.

- Posisi pasien : supine di atas meja pemeriksaan; head first. -Atur posisi kepala sehingga OML vertikal tegak lurus.

- Volume investigasi : dari foramen magnum sampai vertex.

2. Scan parameter :

- Slice thickness : 2-5 mm pada daerah fossa posterior (foramen magnum sampai tentorium); 5-10 mm pada daerah hemisfer (tentorium sampai vertex).

- Inter-slice distance/pitch : 1.0

- FOV : kira-kira 24 cm.

- Gantry tilt : 10-120 parallel dengan supra orbito meatal baseline (untuk mereduksi dosis radiasi pada orbita).

- kV : standard

- mA : diatur sesuai dengan kualitas gambar yang diperlukan.

- Rekonstruksi algorithm : soft tissue

- Window width : 0-90 HU (supratentorial brain), 140-160 HU (brain pada daerah fossa posterior), 2000-3000 HU (bone)

- Window level : 40-45 HU (supratentorial brain), 30-40 HU (brain pada daerah fossa posterior), 200-400 HU (bone).

3. Kriteria kualitas gambar CT kepala

- Kriteria visualisasi pencitraan : cerebrum, cerebellum, basis cranii.

- Kriteria gambar :

a. Tampak jelas batas tegas antara substansia alba dan substansia gricea

b. Tampak jelas daerah basal ganglia

c. Tampak jelas sistem ventrikel

d. Tampak jelas ruang CSF di sekitar mesencephalon dan mengelilingi otak.

1.clip_image002

Potongan axial pertama

Gambar 5

(Bontrager, 2001)

Keterangan: Gambar 5 Gambar irisan CT Scan

1. Bola mata

2. Nervus optikus kanan

3. Kiasma optik

4. Lobus temporal

5. Pons/otak tengah

6. Cerebelum

7. Lobus oksipital

8. Air cel mastoid

9. Sinus sphenoid atau sinus ethmoid

 clip_image004

2. Potongan axial keempat

Gambar 6

(Bontrager, 2001)

Keterangan: Gambar 6. Gambar irisan CT Scan

A. Korpus kalosum anterior

B. Anterior horn ventrikel lateral kiri

C. Ventrikel tiga

D. Kelenjar pineal

Indikasi Pemeriksaan CT-Scan kepala yaitu:

a. Suspect neoplasma, massa, lesi atau tumor pada otak

b. Metastase pada otak

c. Perdarahan intrakranial

d. Aneurysma

e. Abses

f. Atrofi kepala

g. Posttraumatic abnormalities

h. Acquired atau kelainan kongenitaProtuberantia oksipital interna

7:52 AM | 0 komentar | Read More

Mengenal Peralatan /sparepart dari CT Scan

Peralatan Computed Tomography

1. Meja Pemeriksaan dan Gantry

Meja pemeriksaan merupakan tempat mengatur posisi pasien pada saat pemeriksaan. Bentuk panjang, permukaannya berupa kurva dan terbuat dari carbon graphite fiber yang mempunyai nilai penyerap rendah terhadap berkas sinar. Pengaturan tinggi rendah, maju mundur, dari meja pemeriksaan melalui tombol digital yang ditempatkan pada sisi meja pemeriksaan maupun pada gantry. (Anonim, 1986)

Gantry adalah peralatan CT-Scan yang berbentuk kotak, di tengahnya terdapat terowongan untuk keluar masuknya meja pemeriksaan tegak lurus, namun demikian gantry dapat diposisikan menyudut ke posisi negatif maupun positif kurang lebih 200 terhadap meja pemeriksaan.

Di dalam kotak gantry berisi tabung sinar X, filter, kolimator, lampu indikator sebagai sentrasi, DAS (Data Acquisition System) dan detektor juga kipas sebagai pendingin. Pada gantry dilengkapi tombol digital untuk mengatur posisi gantry tersebut (Anonim, 1986).

2. DAS dan Detektor

Sinar X setelah menembus obyek diteruskan oleh detektor yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan data.

Secara garis besar detektor dan DAS berfungsi sebagai :

1) Menangkap sinar X yang telah menembus obyek.

2) Merubah sinar X dalam bentuk sinyal-sinyal elektronik.

3) Menguatkan sinyal-sinyal elektronik.

4) Merubah sinyal elektronik ke data-data digital

Macam-macam detektor :

Detektor scintilasi kristal dan tabung pengganda elektron.

Detektor isian gas.

3. Kolimator

Kolimator pada Computed Tomography terdiri dari dua buah, yaitu :

Kolimator pada tabung sinar X, berfungsi :

- Mengurangi dosis radiasi.

- Pembatas luas lapangan penyinaran.

- Memperkuat berkas sinar.

Kolimator pada detektor, berfungsi :

- Penyearah radiasi menuju ke detektor.

- Mengontrol radiasi hambur.

- Menentukan ketebalan pada slice thickness/vaxel.

clip_image002

Gambar 2.3 : Pesawat CT-Scan (Ballinger, 1995)

2.2.5. Parameter CT-Scan

Dalam CT-Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal. Adapun parameternya adalah :

1. Slice thickness

Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari obyek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilh antara 1 mm-10 mm sesuai dengan keperluan klinis. Ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang rendah sebaliknya ukuran yang tipis akan menghasilkan detail yang tinggi. Jika ketebalan meninggi maka akan timbul artefak dan bila terlalu tipis akan terjadi noise.

2. Range

Range adalah perpaduan/kombinasi dari beberapa slice thickness. Pemanfaatan range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang berbeda pada satu lapangan pemeriksaan.

3.. Faktor eksposi

Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap eksposi meliputi tegangan tabung (KV), arus tabung (mA) dan waktu eksposi (s). Besarnya tegangan tabung dapat dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan.

4. Field of View (FOV)

FOV adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi karena FOV yang kecil mampu, mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekonstruksi matriks hasilnya lebih teliti. Namun bila ukuran FOV lebih kecil maka area yang mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk dideteksi.

5. Gantry Tilt

Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-X dan detektor). Rentang penyudutan antara -25 sampai +25 derajat. Penyudutan gantry bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing kasus yang dihadapi. Disamping itu bertujuan untuk mengurangi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitif.

6. Rekonstruksi matriks

Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom dari picture element (pixel) dalam proses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini merupakan salah satu struktur elemen dalam memori komputer yang berfungsi umtuk merekonstruksi gambar. Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran 512 x 512 yaitu 512 baris dan 512

kolom. Rekonstruksi matriks berpengaruh terhadap resolusi gambar. Semakin tinggi matriks yang dipakai maka semakin tinggi resolusinya.

7. Rekonstruksi Algorithm

Rekonstruksi algorithm adalah prosedur metematis yang digunakan dalam merekonstruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar CT- Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih. Semakin tinggi resolusi algorithma yang dipilih maka semakin tinggi resolusi gambar yang akan dihasilkan. Denagn adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jarringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.

8. Window width

Window width adalah rentang nilai computed tomography yang dikonversi menjadi gray levels untuk ditampilkan dalam TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama nilai computed Tomography. Nilai ini mempunyai satuan Hu (Hounsfield Unit).

9. Window level

Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar yang akan dihasilkan.

7:22 AM | 0 komentar | Read More

LATAR BELAKANG SINGKAT TENTANG CT SCAN

logo radiologynet 2Sejak 1972 telah diperkenalkan suatu pesawat tomografi yang dapat memberikan tomogram dalam waktu singkat yang dikendalikan dengan komputer, yang dikenal dengan Computed Assisted Tomography (CAT) atau Computed Tomography (CT) (Rasad, 1998). CT-Scan yang sangat sederhana dan terbatas hanya untuk pemeriksaan kepala (Head CT Scan). Selanjutnya dikembangkan menjadi whole body scanner (Wegener, 1982).

Pada tahun 1990, CT-Scan mengalami kemajuan yang cukup penting, yaitu mulai diperkenalkannya CT Helical atau CT-Spiral. Keunggulan dari alat ini waktu eksposi yang semakin singkat. CT Helical menggunakan metode Slip ring yang pada prinsipnya menggantikan kabel-kabel tegangan tinggi yang terpasang pada tabung sinar-X di dalam gantry yang disertai dengan pergerakan meja. Dengan metode ini, tabung sinar-X dapat berotasi secara terus menerus sambil mengeksposi pasien yang bergerak secara sinkron. Prinsip itulah yang dikenal dengan spiral. Di dalam CT Helical dikenal prinsip single slice. Perbedaan utama dari kedua prinsip ini terletak pada jumlah jalur detektor yang berpengaruh pada lamanya pemeriksaan dan resolusi gambar yang dihasilkan.

Pada CT Scan Kepala dengan menggunakan CT Helical dapat menampilkan gambaran anatomis dari basic cranii (sejajar dengan MAE) hingga bagian otak atas dalam waktu singkat. Gambaran otak yang normal akan tampak falx cerebri, lobus tulang cranium, ventrikel otak, capsula interna, mastoid air sells, sisterna, arteri basilar, corpus callosum, thalamus, nucleus caudate, plexus choroid dan cerebellum. Pada Scanogram akan tampak irisan-irisan kepala yang dapat memberikan informasi adanya kelainan pada bagian-bagian otak tersebut, sehingga dapat mengakibatkan fungsi otak terganggu. Karena kelainan ini, maka muncul beberapa patologi penyakit yang ada pada kepala. Seperti stroke, vertigo, cephalgia, infark, massa atau tumor.

7:16 AM | 0 komentar | Read More

MRI PADA KASUS APPENDICITIS

                       Mungkin kasus ini jarang dilakukan, namun kali ini dijumpai ada permintaan pemeriksaan dari dokter spesialis bedah untuk dilakukan pemeriksaan MRI apendik.

terjadi pada pasien yang sedang hamil 20 minggu, dikarenakan sedang hamil salah satu permintaan yang dimintakan adalah usg dan MRI, dengan USG hasil kurang maksimal, terus dilanjutkan dengan pemeriksaan MRI appendicitis.

Pada kasus ini dilakukan MRI 1.5 tesla, dilakukan dengan potongan axial dan sagital, hasil gambar sebagai berikut:

imageimage

image

 

4:38 PM | 0 komentar | Read More

Teknik pemeriksaan Radiology MRCP pada kasus saluran batu kandung empedu.

logo radiologynet 2

Kali ini ingin membahas sedikit tentang interview pemeriksaan MRCP, lebih singkatnya lihat dibawah ini:

a. Posisi pasien

Posisi pasien supine dengan kaki yang terlebih dulu masuk dalam gantry/ feet first. Setelah pasien sudah diposisikan dengan baik kemudian dipasang koil torso phased dan juga kompensasi respiratory atau sensor nafas pasien. Setelah itu alighment light di sentrasikan pada pertengahan koil torso atau centrasi pada xyphoideus. Hal ini sesuai dengan wawancara responden tiga...

“...oo pengaturan pasiennya, sentrasi setinggi dibawah processus xyphoideus kemudian waktu kita scan yang tercakup batas atasnya itu diafragma, batas bawah minimal sias habis disitu kita harapkan hasilnya bagus...”

b. Teknik pemeriksaan

Masukan data pasien di RX manager komputer. Tentukan protokol pada window site dan pilih series antara lain :

clip_image002

Coronal localiser

Scanning dilakukan dengan tahan nafas yang digunakan untuk planing atau referensi Series 2 dan 3 Axial T2 , T1. Hal ini sesuai wawancara dengan responden kedua...

”...Teknik pemeriksaanya e.. ya biasa kita ambil scannogram potongan coronal terus diambil untuk axial T2 T1...”

Coronal localiser parameter yang digunakan adalah pulse sekuens SSFSE; TR : 1054; TE : A7,2 /ET; FOV : 44; Thickness 5,0 ; Spacing :1.0; NEX: 0.5; matrix 256x 128

1) Axial T1

Axial T1parameter yang digunakan adalah pulse sekuens FSPGR ; TR : 160; TE : 1.8/ Fr; FOV : 33; Thickness 8,0; Spacing :2.0; NEX: 1; matrix 256x 128.

clip_image002[4]

Axial T2

Sekuens ini mengidentifikasi hepar, pankreas dan lesi yang lain. Image ini menggambarkan kandung empedu secara umum untuk membantu dalam akuisisi dari sekuens coronal oblique MRCP Axial T2 parameter yang digunakan adalah pulse sekuens FSE; TR : 2000; TE : 41.7; FOV : 33; Thickness 8,0; Spacing :2.0; NEX: 1.0; matrix 256x 192

clip_image002[7]

Thick Slab SSFSE

Untuk mengakuisisi duktus billiaris dan duktus pankreatikus referensi yang digunakan adalah potongan coronal. Pada pengambilan planing untuk referensi dari MRCP diambil potongan coronal sebanyak 9 slab atau 9 kali dengan sudut sebesar 20ยบ. Semakin kecil sudut yang digunakan maka gambaran yang dihasilkan akan tampak berimpit atau tampak menyambung. Hal ini sesuai dengan wawancara beberapa responden...

Responden tiga : “...tetapi semakin tipis penyudutannya otomatis perputaran dari gambaranya atau bentuk anatomi saluran tersebut semakin jelas, semakin tipis penyudutannya dalam arti irisannya 5-10, 15 semakin tipis sudut otomatis semakin lama. Jadi MRCP kita ambil dengan program sekuens /namanya thick slab...”

Responden empat : “...kita ambil beberapa slab yang memutar antara 15 derajat sampai 30 derajat, untuk MRCPnya 6-12 slice....”

Dalam pengambilan slice yang sedikit atau hanya 9 kali karena disesuaikan dengan waktu pemeriksaan yaitu menggunakan scanning time yang singkat karena mengingat jumlah pasien yang diperiksa banyak jadi menggunakan irisan yang sedikit karena semakin sedikit slice yang diambil maka semakin sedikit waktu scanning yang diperlukan. Hal ini sesuai dengan wawancara responden tiga...

”...karena disini kita mencari bukan secara keseluruhan aja, kita cari yang perlu-perlu aja gitu. Karena kita pake seperti itu otomatis waktu akan semakin lama, yaa mungkin disini hubungannya dengan jumlah pasien kita ya.., pasiennya banyak jadi kita untuk mempersingkat waktu...”

image

Pengambilan MRCP thick slab dilakukan dengan tahan nafas selama 3 detik, apabila pasien tidak mampu melakukan tahan nafas maka peran keluarga disini diperlukan jika pasien tidak

kooperatif atau tidak dapat mengikuti aba-aba petugas. Hal ini sesuai dengan wawancara responden ke dua...

“...maka paling kompensasinya secara manual keluarga yang di dalam diminta untuk tutup hidung pasien untuk beberapa detik sesuai pemantauan kita, lepas tutup-lepas tutup...”

Pulse sekuens yang digunakan Single Shot Fast Spin echo bukan Steady State gradien echo karena gradien biasanya digunakan khusus untuk pembuluh darah. Hal ini sesuai dengan responden empat...

“...Kalau SPGR kan untuk pembuluh darah kalau SSFSE untuk fokus MRCPnya, MRCP bukan khusus pembuluh darah, itu kan jaringan-jaringan pankreas...”

Pada pemeriksaan MRCP akan ditampakkan gambran dari saluran-saluran duktus billiaris maupun duktus pankreatikus. Hal inilah yang membedakan dengan pemeriksaan batu empedu pada USG karena MRCP mampu melihat saluran-saluran empedu secara detail, sesuai wawancara dengan responden satu...”

“...USG itu lebih mengarah pada penilaian pada batu empedu dan kelainan saluran di dalam hati. Untuk saluran ekstrahepatic USG itu lemah karena tertutup dengan lambung dan duodenum. Untuk saluran ekstraheptic USG. Jadi USG lebih unggul dalam kandung empedu dan saluran yang ada dalam hepar...”

Hasil Pembacaan foto

Pemeriksaan MRCP dan MRI abdomen atas dibuat potongan MRI axial T1-T2 SE dari puncak hepar sampai ginjal dan MRCP dengan SSFSE thick slab tanpa kontras GdDTPA,.

Hepar bentuk normal, permukaan licin, parenkim menunjukkan sebuah lesi kistik bulat di segment posterior lobus kanan. Lobus kiri baik tidak mencurigakan HCC.

MRCP perifer intrahepatic bile ducts tidak melebar junctional hepatic bile duct mulai dan extraepatic bile duct sampaidistal CBD sesuai dengan batu, salah satu batu agak besar terkesan impacted di muara CBD.

Duktus pankreatikus tidak melebar

Kandung Empedu membesar, dinding agak menebal, tampak bayangan multiple batu didalamnya.

Lien normal permukaan baiktidak tampaksol Vena lienalis tidak melebar, Pankreas normal tidak membesar, parenkim tidak mencurigakan sol peripancreas fat bersih tidak mencurigakan infiltrad/ fluid collection.

Ginjal bentuk normal, parenkim baik system pelviocalyses tidak melebar kelenjar adrenal normal.

Kgb paraaortal tidak melebar, tidak tampak acites, Lambung dan usus di abdomen atas dalam batas normal. Dinding usus tidak menebal, tidaktampak massa diantara usus.

Kesan : Bendungan ekstrahepatic bile ducts yang cukup menonjol cc. multiple, Batu di dalamnya, salah satu batu dicurigai impacted di muara CBD, CBD / ekstrahepatic bile duct tidak melebar, Cholelithiasis dengan tanda-tanda cholecystitis, Kista di segment posterior lobus kanan, ukuran kurang dari 15 mm, Kgb tidak membesar, tidak tampak acites, Organ-2 abdomen atas lainnya dalam batas normal.

 

10:56 PM | 0 komentar | Read More

Istilah Parameter CT Scan

Sudah lama tidak posting, baca baca bontranger sejenak sedikit tentang parameter ct scan berikut ulasannya:

image

Parameter CT Scan, (Bontrager, 2001).

Dalam CT-Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal. Adapun parameternya adalah :

Slice thickness

Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari obyek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilh antara 1mm - 10mm sesuai dengan keperluan klinis. Ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang rendah sebaliknya ukuran yang tipis akan menghasilkan detail yang tinggi. Jika ketebalan meninggi maka akan timbul artefak dan bila terlalu tipis akan terjadi noise.

Range

Range adalah perpaduan / kombinasi dari beberapa slice thickness. Pemanfaatan range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang berbeda pada satu lapangan pemeriksaan.

Faktor eksposi

Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap eksposi meliputi tegangan tabung (KV), arus tabung (mA) dan waktu eksposi (s). Besarnya tegangan tabung dapat dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan.

Field of View (FOV)

FOV adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12 cm - 50 cm. FOV yang kecil akan meningkatkan resolusi karena FOV yang kecil mampu, mereduksi ukuran pixel, sehingga dalam rekonstruksi matriks hasilnya lebih teliti. Namun bila ukuran FOV lebih kecil maka area yang mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk dideteksi.

Gantry Tilt

Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar X dan detektor). Rentang penyudutan antara -25 sampai +25 derajat. Penyudutan gantry bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing kasus yang dihadapi. Disamping itu bertujuan untuk mengurangi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitif.

Rekonstruksi matriks

Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom dari picture element (pixel) dalam proses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini merupakan salah satu struktur elemen dalam memori komputer yang berfungsi umtuk merekonstruksi gambar. Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran 512 x 512 yaitu 512 baris dan 512 kolom.

Rekonstruksi matriks berpengaruh terhadap resolusi gambar. Semakin tinggi matriks yang dipakai maka semakin tinggi resolusinya.

Rekonstruksi Algorithm

Rekonstruksi algorithm adalah prosedur metematis yang digunakan dalam merekonstruksi gambar. Penampakan dan karakteristik dari gambar CT Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih. Semakin tinggi resolusi algorithma yang dipilih maka semakin tinggi resolusi gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jarringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.

Window width

Window width adalah rentang nilai computed tomography yang dikonversi menjadi gray levels untuk ditampilkan dalam TV monitor. Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama nilai computed Tomography. Nilai ini mempunyai satuan Hu (Hounsfield Unit).

Tipe jaringan

Nilai CT (HU)

Penampakan

Tulang

Otot

Darah

Udara

+1000

+50

+20

-1000

Putih

Abu-abu

Abu-abu

Hitam

Dasar pemberian nilai ini adalah tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai + 3000 HU. Sedangkan untuk kondisi udara nilai ini adalah– 1000 HU. Diantara rentang tersebut merupakan jaringan atau substansi lain dengan nilai berbeda-beda pula tergantung pada tingkat perlemahannya. Dengan demikian penampakan tulang dalam monitor menjadi putih dan penampakan udara hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi menjadi warna abu-abu yang bertingkat yang disebut Gray Scale. Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya berwarna abu-abu dapat menjadi putih jika diberi media kontras Iodine.

Window level

Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window level menentukan densitas gambar yang akan dihasilkan.

7:26 PM | 0 komentar | Read More

Pemeriksaan radiology dengan CT Scan pada kasus suspect fibroma

Fibrolipoma merupakan Sel tumor bersifat jinak yang pertumbuhannya lambat, sehingga pada umumnya tidak cepat membesar. Tumor (pembengkakan dalam bahasa latin) merupakan massa jaringan yang tidak normal, tetapi dapat berupa ganas (canceour/ malignant) atau jinak (benign / non cancerous). Tumor disebabkan oleh mutasi dalam DNA sel. Sebuah penimbunan mutasi dibutuhkan untuk tumor dapat muncul. Mutasi yang mengaktifkan oncogene atau menekangen penahan tumor pada akhirnya dapat menyebabkan tumor (webmaster@mediasehat.com).

Sel memiliki mekanisme yang bisa memperbaiki DNA dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui apoptosis apabila DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu oncogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan terjadinya tumor, oleh karena itu dibutuhkan suatu kombinasi dari sejumlah mutasi (Bricker SL, Langlais RP, Miller CS, 1994).

Untuk mendiagnosis massa pada sruktur regio femur selain memerlukan anamesis dan pemeriksaan fisik juga beberapa pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan radiologi (roentgen), computed tomography scanning (CT Scan),dan test laboratorium (Yayasan Harapan Rumah Hati Kita, 2003).

CT Scan mempunyai kemampuan untuk membedakan bagian-bagian yang kecil diantara jaringan lunak dan ini lebih baik dibandingkan pada pemeriksaan radiologi konvensional. Dapat dilakukan penyuntikan media kontras sebelum pemeriksaan sinar x untuk meningkatkan detail halus struktur. Dengan meningkatkan kontras enhancement, menyebabkan berbagai jaringan lunak dan cairan tubuh dapat dibedakan.

Pemeriksaan CT Scan femur dextra pada kasus fibrolipoma, menggunakan topogram dan menggunakan protokol pelvis dengan posisi feet-first supine dengan slice thikness 5 dan 8 mm dan menggunakan media kontras sebanyak 25 mL dengan melalui vena cubiti kanan.

Prosedur Pemeriksaan

Prosedur pemeriksaan CT Scan Femur dextra pada kasus fibrolipoma, yang dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang adalah sebagai berikut

Persiapan pasien

Tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksan CT Scan femur

Persiapan alat dan bahan

Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan CT Scan Femur dextra pada kasus fibrolipoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi Semarang adalah sebagai berikut :

1) Alat dan Bahan steril :

a) Media kontras : lopamiro 300 mg, 60 ml

b) Wing needle

c) Spuit 25 cc

d) Kapas alkohol

2) Alat dan Bahan tidak steril :

a) Pesawat CT Scan (Somatom Emotion, Siemens)

b) Film CT Scan merk Kodak

c) Stun in

d) Sand bag (untuk fiksasi)

e) Plester

Teknik Pemeriksaan

Teknik pemeriksaan CT Scan Femur dextra pada kasus fibrolipoma adalah sebagai berikut:

1) Memasukkan data pasien ke pasien register

clip_image002

isi data pasien

clip_image002[4]

Memposisikan pasien

a. Menyesuaikan kondisi pasien

b. Memposisikan pasien senyaman mungkin di atas meja pemeriksaan

c. Posisi pasien feet-first supine, MSP tegak lurus terhadap meja pemeriksaan

d. Mempergunakan kelengkapan fiksasi

e. Hubungi dokter pengirim bila ada sesuatu yang mengakibatkan pemeriksaan yang tidak boleh dilakukan

Buat scaning topogram

image

pilih parameter

image

buat scaning

1) Membuat potongan axial (pre kontras)

· Potongan axial dibuat dari knee joint sampai daerah sekitar hip joint. Scanning femur dengan ketebalan slice 5 mm (daerah kelainan) dan 8 mm (daerah normal).

clip_image002[8]

2) Membuat potongan axial (post kontras)

· Potongan axial dibuat dari knee joint sampai daerah sekitar hip joint. Scanning femur dengan ketebalan slice 5 mm (daerah kelainan) dan 8 mm (daerah normal).

· Menggunakan media kontras Iopamiro 300 mg / 60 ml sebanyak 25 ml, disuntikkan melalui vena cubiti kanan dengan menggunakan spuit 25 cc

· Memberikan instruksi kepada pasien jika akan dilakukan penyuntikan media kontras

clip_image002[10]

kemudian recontruksi dari coronal sagital, dan pengolahan gambar untuk dilakukan printing

 

7:08 PM | 0 komentar | Read More