Anatomi Dan Fungsi Sinus Paranasal Fakultas Kedokteran

PENDAHULUAN
Kompleksitas dari anatomi sinus paranasal dan fungsinya menjadi topik yang menarik untuk dipelajari. Ada empat sinus paranasal yaitu sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus maxillaris dan sinus sphenoidalis. Sinus adalah suatu rongga berisi udara dilapisi mukosa yang terletak di dalam tulang wajah dan tengkorak. Perkembangan sinus-sinus ini sudah dimulai sejak dalam kandungan, terutama sinus maxillaris dan sinus ethmoidalis.
Perkembangan dari dinding lateral nasal dimulai dengan struktur yang lembut dan undiferensiasi. Perkembangan yang pertama adalah maxilloturbinal yang akan secepatnya menjadi turbinate inferior. Setelah itu, mesenchyme membentuk ethmoturbinal, menjadi turbinate medial, superior dan supreme yang membagi kedua dan ketiga dari ethmoturbinal. Pertumbuhan ini diikuti oleh perkembangan dari sel nasi agger, processus uncinatus dan infundubulum ethmoidalis. Sinus kemudian mulai berkembang.
Sistem resultan dari rongga, ostia, dan processus adalah sistem kompleks dari struktur yang harus dipahami supaya penanganan yang berhubungan dengan operasi sinus dapat efektif dan aman. Anatomi, mikroskopik anatomi, fisiologi dan fungsi dari sinus akan dijelaskan.

ANATOMI SINUS PARANASAL DINDING LATERAL NASAL.
Dinding lateral nasal meliputi bagian dari os ethmoid, os maxilla, os palatina, os lacrimal, lamina pterygoideus medial os sphenoid, os nasal dan turbinate inferior. Tiga dari empat turbine dari dinding supreme, superior dan medial menjadi proyeksi dari os ethmoid. Bagian inferior merupakan suatu struktur yang independen. Masing-masing struktur ini disebut dengan meatus .Tulang kecil dari projeksi os ethmoid yang menutup, membuka kesamping menempatkan sinus maxillaris dan membentuk suatu palung di belakang pertengahan turbinate. Sekat bertulang tipis ini dikenal sebagai processus uncinatus. Dinding superior nasal terdiri dari ethmoid sel sinus terletak sebelah lateral dari epithelium olfactorius dan cribiform plate yang mudah pecah. Bagian superior dari sebagian besar sel ethmoid anterior barada pada sinus frontal. Bagian posterior superior
dari dinding nasal lateral menjadi dinding anterior dari sinus sphenoidalis yang mendekap dibawah sella turcica dan sinus cavernosus.

SINUS MAXILLARIS
Sinus maxillaris (Antrum of Highmore) adalah sinus yang pertama berkembang. Struktur ini adalah pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari sinus ini adalah biphasic dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun. Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang permanen mengambil tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka.

Struktur.
Sinus maxillaris orang dewasa adalah berbentuk piramida mempunyai volume kira-kira 15 ml ( 34 x 33 x 23mm ). Dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zygomaticum. Dinding anterior mempunyai foramen infraorbital berada pada bagian midsuperior dimana nervus infraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen itu. Saraf ini dapat dehiscens (14%). Bagian yang tertipis dari dinding anterior adalah sedikit di atas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbital dan di transeksi oleh nervus infraorbital . Dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris dengan arteri maxillaris interna, ganglion sphenopalatina dan saluran Vidian, nervus palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus, seperti dibahas di atas, bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar sinus secara umum sama dengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi peumatisasi sinus maxillaris. Oleh karena itu berhubungan erat dengan penyakit pertumbuhan gigi yang dapat menyebabkan infeksi rahang dan pencabutan gigi dapat mengakibatkan fistula oral-antral. Perdarahan Cabang dari arteri maxillaris internal mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbital ( yang berjalan dengan nervus infraorbital ), cabang lateral dari sphenopalatine, palatina mayor, vena axillaris dan vena jugularis sistem dural sinus.
Persarafan
Sinus maxilla disarafi oleh cabang dari V.2. yaitu nervus palatina mayor dan cabang dari nervus infraorbital Struktur yang terkait. Ductus nasolacrimalis mengalir ke kantung lacrimalis dan berjalan dari fossa lacrimalis di bawah orbita sebelah posterior dari dinding penunjang rahang yang vertikal dan kosong di sebelah depan dari meatus inferior. Saluran ini berada sangat dekat dengan ostium rmaxilla, rata-rata berada pada 4 - 9mm di depan ostium .
1. Ostium alami. Ostium maxillaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum ethmoidalis, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Tepi posterior dari ostium ini berlanjut dengan lamina paprycea sekaligus ini menjadi tanda (landmark) untuk batas lateral dari diseksi pembedahan. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tetapi dapat bervariasi antara 1 mm. Ostium ini jauh lebih kecil dibanding defect pada tulang sebab mcosa mengisi area ini dan menggambarkan tingkat dari pembukaan itu. 88% dari ostium maxilla bersembunyi dibelakang processus uncinatus oleh karena itu tidak bisa dilihat secara endoscopi.
2. Fontanella anterior dan posterior ostium acessorius. Dua tulang dehiscens dari dinding nasal / dinding medial sinus maxillaris kadang-kadang ada satu dehiscence tulang yang besar, pada umumnya ditutup oleh mucosa. Beberapa individu dimana fontanella anterior atau posterior mungkin tetap terbuka mengakibatkan
terdapat suatu ostium assesori. Ostium ini biasanya tidak berfungsi, mengalirkan sinus jika ostium yang alami dihalangi dan adanya tekanan/gravitasi gerak intrasinus dari ostium itu. Ostium asesorius pada umumnya ditemukan pada fontanella posterior.
SINUS ETHMOIDALIS
Perkembangan
Sinus ethmoid merupakan struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai dewasa umur 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai umur 1 tahun. Septa yang secara berangsur-angsur tipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel ethmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sphenoid lateral, ke atap maxilla dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Sel ini disebut sel supraorbital dan ditemukan 15% dari pasien. Penyebaran sel ethmoid ke dasar sinus frontal disebut frontal bulla. Penyebaran ke turbinate medial disebut concha bullosa. Sel yang berada pada dasar sinus maxilla ( infraorbita ) disebut Haller”s sel dan dijumpai pada 10% populasi. Sel-sel ini dapat menyumbat ostia maxilla dan membatasi infundibulum mengakibatkan gangguan pada fungsi sinus. Sel yang meluas ke anterior lateral sinus sphenoid disebut Onodi sel. Variasi dari sel ini penting pada saat preoperative untuk memperjelas anatomi pasien secara individu Struktur.
Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (3,3 x 2,7 x 1,4 cm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan dibagi menjadi multipel sel oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15 derajat). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan faveola ethmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelah medial agak miring kebawah kearah cribiform plate. Perbandingan antara tulang tebal sebelah lateral dan plate adalah sepersepulah kuat atap sebelah lateral. Perbedaan berat antara atap medial dan lateral bervariasi antara 15-17 mm.Sel ethmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. Dinding lateralnya adalah lamina paprycea orbita.
Perdarahan
Sinus ethmoid mendapat aliran darah dari arteri carotis eksterna dan interna . Arteri sphenopalatina dan juga arteri opthalmica mendarahi sinus. Pembuluh vena mengikuti arterinya dan dapat menyebabkan infeksi intracranial.
Persarafan.
Disarafi oleh nervus V.1 dan V.2, nervus V.1 mensarafi bagian superior sedangkan sebelah inferior disarafi oleh nervus V.2. Persarafan parasimpatis melalui nervus Vidian, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion sympathetic cervical dan berjalan bersama pembuluh darah menuju mukosa sinus.
Struktur yang terkait
1. Lamella basal dari turbinate medial
Struktur ini dibentuk oleh pemisahan antara sel ethmoid anterior dan posterior merupakan pemasangan dari turbinate medial dan berjalan pada tiga tempat yang berbeda didalamnya dari anterior ke posterior. Sebagian dari bagian anterior adalah vertikal dan menyisip di crista ethmoidalis dan dasar tengkorak. 1/3 tengah berjalan miring menyisip ke lamina papyracea. 1/3 akhir menyisip sejajar dengan lamina papyracea. Ruangan
dibawah concha medial disebut meatus medial menuju ethmoid anterior, sinus frontal, dan aliran sinus maxilla . Kesalahan dalam operasi dapat merusak turbinate medial anterior dan posterior dan dibagian anteriornya dapat merusak cribriform plate.
2. Sel ethmoid anterior dan posterior
Sel di bagian anterior menuju lamella basal. Pengalirannya ke meatus medial melalui infundibulum ethmoid. Termasuk sel agger nasi, bulla ethmoid dan sel-el anterior lainnya. Sel yang di posterior bermuara ke meatus superior dan berbatasan dengan sinus sphenoid. Sel bagian posterior secara umum lebih sedikit dalam jumlah dan lebih besar dari sel bagian anterior.
3. Sel agger nasi
Sel ini dijumpai di os lacrimal anterior dan superior persimpamgan dari turbinate medial dengan dinding nasal. Sel ini tersembunyi di belakang anterior dari processus uncinatus dan mengalirkan ke dalam hiatus semilunaris. Ini merupakan sel yang pertama pneumatisasi pada bayi yang baru lahir sampai masa anak-anak. Terdapat satu sampai tiga sel. Dinding sel posterior membentuk dinding anterior dari recessus frontal. Atap sel agger nasi adalah dasar dari sinus frontal, yang merupakan tanda penting untuk operasi sinus frontal.
4. Bulla ethmoid
Ini penting sebagai pertanda untuk kasus operasi. Terletak diatas infundibulum dan permukaaan lateral / inferiornya, dan tepi superior processus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel ethmois anterior yang terbesar. Arteri ethmoidalis anterior umumnya menyilang terhadap atap sel ini. Recessus suprabullar dan retrobullar dibentuk ketika bulla ethmoid tidak meluas ke dasar tengkorak. Recessus suprabullar adalah suatu celah antara atap bulla ethmoid dan fovea. Ruang retrobullar dibentuk ketika ada celah antara lamella basal dan bulla. Ruang retrobular ini dikenal sebagai hiatus semilunaris superior .
5. Infundibulum ethmoid
Perkembangan infundibulum mendahului sinus. Dibentuk oleh struktur yang kompleks. Dinding anterior dibentuk oleh processus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh processus frontalis os maxilla dan lamina papyracea.
6. Arteri ethmoid anterior dan posterior
Arteri ethmoid anteior dan posterior berasal dari arteri opthalmica. Arteri ethmoid anterior menyilang ke rektus medial dan menembus lamina papyracea. Arteri ini kemudian menyilang ke atap sinus ethmoid pada sebuah tulang tipis ( biasanya dehisens ), mendarahi cribiform plate dan septum anterior. Arteri ini biasanya besar dan tunggal dan di bagian inferiornya menutupi sel sinus. Letaknya yang tertutup berhubungan dengan letak strukturyang lebih medial yaitu fovea ethmoid. Arteri ethmoid posterior menyilang rektus medial, menembus lamina papyracea dan melalui sel ethmoid posterior menuju septum. Mendarahi sinus ethmoid posterior, turbinate superior dan medial dan sebagian kecil septum posterior. Arteri ini kecil dan bercabang-cabang. Letaknya tertutup kebawah diantara sel-sel sinus, bergabung dengan letak nervus opticus dekat vertex orbita. Sebab perkembangan dari struktur ini mendahului sinus hubungan ke sel ethmoid dapat bervariasi.
SINUS FRONTALIS
Perkembangan
Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan keatas dari sebagian besar sel-sel ethmoid anterior. Os frontal masih merupakan selaput (membran) pada saat kelahiran dan tulang mulai untuk mengeras sekitar usia 2 tahun. Secara radiologi jarang bisa terlihat struktur selaput (membran) ini. Perkembangannya mulai uia 5 tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun.
Struktur
Volume sinus ini sekitar 6 - 7ml (28 x 24 x 20mm). Anatomi sinus frontalis sangat variasi tetapi secara umum ada dua sinus yang berbentuk seperti corong dan berbentuk point menaik. Kedalaman dari sinus berhubungan dengan pembedahan untuk menentukan batas yang berhubungan dengan pembedahan. Kedua bentuk sinus frontal mempunyai ostia yang bergantung dari rongga itu (posteromedial). Sinus ini dibentuk dari tulang diploe. Bagaimanapun, dinding posterior (memisahkan sinus frontal dari fosa kranium anterior) lebih tipis. Dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata.
Perdarahan
Sinus frontalis mendapat perdarahan dari arteri opthalmica melalui arteri supraorbita dan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui vena opthalmica superior menuju sinus cavernosus dan melalui vena-vena kecil didalam dinding posterior yang mengalir ke
sinus dural.
Persarafan
Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang nervus V.1. Secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear.
Struktur terkait
Recessus frontal Recessus frontal adalah ruang diantara sinus frontalis dan hiatus semilunaris yang menuju
ke aliran sinus. Bagian anterior dibatasi oleh sel agger nasi, superior oleh sinus frontalis, medial oleh turbinate medial dan bagian lateral oleh lamina papyracea. Rongga yang menyerupai suatu dambel seperti sinus frontalis merupakan ostium atau saluran yang kemudian membuka lagi kedalam recesus. Berdasarkan luasnya pneumatisasi ethmoid, recessus ini dapat kembali menjadi bentuk pipa yang menghasilkan dambel yang lebih panjang. Struktur yang anomali, seperti sinus lateralis (bagian posterior ke recessus frontal di dasar tengkorak) dan bula frontalis (bagian anterior ke receesus di dasar sinus frontalis) menyebabkan salah interpretasi seperti sinus frontalis ketika operasi sinus.
SINUS SPHENOIDALIS
Perkembangan
Sinus sphenoidalis adalah unik oleh karena tidak dibentuk dari kantong rongga hidung. Sinus ini dibentuk didalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang hingga usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sella turcica. Usia 18 tahun, sinus sudah mencapai ukuran penuh.
Struktur
Usia belasan tahun sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5ml (23 x 20 x 17mm). Pneumatisasai sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung. Pneumatisasi dapat meluas sejauh clivus, ala parva dan ala magna os sphenoid sampai ke foramen magnum. Dinding sinus sphenoidalis bervariasi ketebalannya, dinding
anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1 – 1,5mm). dinding yang lain lebih tebal, Bagian paling tipis dari dinding anterior adalah 1 cm dari fovea ethmoidalis. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Sinus bisa terletak jauh di anterior, di anterior atau dengan seketika di bawah sella turcica (conchal, presellar, sellar atau postsellar). Kebanyakan posisi posterior dapat menempatkan sinus bersebelahan ke struktur yang penting seperti arteri carotid, nervus opticus, nervus maxillaris cabang dari nervus trigeminal, nervus vidian, pons, sella turcica dan sinus cavernosus. Struktur ini sering dikenali seperti lekukan di atap dan dinding sinus. Dalam presentase kecil akan mempunyai dehisens tulang di atas struktur yang penting seperti nervus opticus dan arteri carotid. Hati-hati ketika memperbaiki septa sinus ini mungkin di dalam kesinambungan dengan carotid dan canalis opticus yang dapat mengakibatkan kematian dan kebutaan.
Ostium sinus sphenoidalis bermuara ke recessus sphenoethmoidalis. Ukurannya sangat kecil ( 0.5 - 4mm ) dan letaknya sekitar 10 mm di atas dasar sinus. 30 derajat kebawah dari dasar hidung anterior mendekati letak ostium diatas dinding posteriosuperior hidung, merupakan garis tengah persambungan antara 1/3 atas dan 2/3 bawah dari dinding anterior sinus. Biasanya sebelah medial ke turbinate superior dan hanya beberapa milimeter dari cribiform plate. Ostium ini, seperti sinus maxillaris, mempunyai tulang dehisens yang lebih besar yang dibatasi oleh sebuah septum membran.
Perdarahan
Arteri ethmoid posterior mendarahi atap sinus sphenoidalis. Bagian lain dari sinus mendapat aliran darah dari arteri sphenopalatina. Aliran vena melalui vena maxillaris ke vena jugularis dan pleksus pterigoid. Persarafan
Sinus sphenoidalis disarafi oleh cabang nervus V.1 dan V.2. Nervus nasociliaris (cabang nervus V.1) berjalan menuju nervus ethmoid posterior dan mensarafi atap sinus. Cabang- cabang nervus sphenopalatina (V.2) mensarafi dasar sinus.
Struktur terkait
1. Recessus sphenoethmoidalis
Recessus sphenoethmoidalis adalah rongga disampinga dan diatas turbinate superior.
Batasan-batasan dari rongga ini dibentuk oleh struktur yang kompleks. Dinding anterior sinus sphenoidalis membentuk batas posterior. Septum nasi dan cribiform plate membentuk batas medial dan superior. Perluasan anteriolateral ditentukan oleh turbinate superior. Rongga ini keluar ke rongga hidung secara lebih rendah. Sel ethmoid posterior, seperti halnya sinus sphenoidalis mengalir ke daerah ini.
2. Rostrum sphenoid
Struktur ini hanya proyeksi garis tengah dari dinding sinus sphenoid anterior, menyambung lamina perpendicular dan os vomer.
3. Onodi sel
Telah dijelaskan diatas, sel ini adalah sel-sel ethmoid yang terletak anteolateral menuju sinus sphenoidalis. Struktur penting seperti areteri carotis dan nervus opticus bisa melalui sel ini. Struktur ini sering dehisens. Perlu tindakan pembedahan yang hati-hati di area ini dan pemeriksaan radiograpi yang baik untuk menghindari hasil yang tidak diinginkan.
MIKROSKOPIK ANATOMI
Sinus-sinus ini dilaisi oleh epitel pseudostratified ciliated columnar yang berkesinambungan dengan mukosa di rongga hidung. Epitel sinus ini lebih tipis dari epitel hidung. Ada 4 tipe sel dasar, yaitu epitel ciliated columnar, non ciliated columnar, sel basal dan sel goblet. Sel-sel ciliated memiliki 50 – 200 silia per sel dengan struktur
dari 9+2 mikrotubulus dengan dynein lengan. Data penelitian menunjukkan sel ini berdetak 700-800 kali per menit, pergerakan mucosa pada suatu tingkat 9 mm per menit. Sel yang nonciliated ditandai oleh microvilli yang menutupi daerah apikal sel dan bertugas untuk meningkatkan area permukaan ( mungkin memudahkan pembasahan dan kehangatan dari udara inspirasi ). Ini penting untuk meningkatkan konsentrasi (sampai 50%) dari ostium sinus. Fungsi sel basal belum diketahui, sangat bervariasi baik dalam bentuk dan jumlah. Beberapa teori menjelaskan bahwa sel basal dapat bertindak sebagai suatu stem cell yang dapat membedakan jika dibutuhkan . Sel goblet memproduksi glikoprotein yang berfungsi untuk viskositas dan elastisitas mukosa. Sel goblet ini disarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. Rangsangan saraf parasimpatis
menghasilkan mucous yang lebih kental dan dengan rangsangan saraf simpatis pengeluaran mucous lebih encer. Lapisan epitel disokong oleh suatu basement membran yang tipis, lamina propia, dan periosteum. Keduanya baik kelenjar serous dan mucinous mengalir ke dalam lamina propia. Studi anatomi menunjukkan tentang sel goblet dan kelenjar submucosal di sinus dibandingkan di mukosa hidung. Pada studi tersebut, sinus maxillaris mempunyai sel goblet yang paling tinggi. Ostia dari rahang, sphenoid dan sinus ethmoid anterior meningkat dalam jumlah submucosal yang mengandung kelenjar serous dan mucinous.
FUNGSI SINUS PARANASAL
Fisiologi dan fungsi dari sinus banyak menjadi penelitian. Berbagai teori dari fungsi ada. Ini meliputi fungsi dari kelembaban udara inspirasi, membantu pengaturan tekanan intranasal dan tekanan serum gas, mendukung pertahanan imun, meningkatkan area permukaan mucosa, meringankan volume tengkorak, memberi resonansi suara,
menyerap goncangan dan mendukung pertumbuhan masase muka. Hidung adalah suatu alat pelembab udara yang mengagumkan dan lebih hangat dari udara. Bahkan saat kecepatan aliran udara 7liter / menit, hidung belum mencapai kemampuan maksimalnya untuk melaksanakan fungsi ini. Kelembaban hidung telah ditunjukkan untuk menyokong pO2 serum sebanyak 6,9 mmHg. Walaupun mucosa hidung beradaptasi melaksanakan fungsi ini, sinus berperan pada area permukaan mucosa dan kemampuannya untuk menghangatkan. Beberapa peneliti memperlihatkan bahwa bernafas dengan mulut menurunkan volume akhir CO2 yang dapat meningkatkan kadar CO2 serum dan berperan untuk slep apnea.
Oleh karena produksi mukosa sinus yang berlimpah mereka berperan pada pertahanan imun / penyaringan udara yang dilakukan oleh hidung. Hidung dan mukosa sinus terdiri dari sel cilia yang berfungsi untuk menggerakkan mukosa ke choana. Lapisan superfisial yang dikentalkan dari mukosa hidung berperan untuk menjerat bakteri dan partikel yang mengandung unsur yang kaya dengan sel imun, antibodi dan protein antibakteri. Perbatasan lapisan sol yang lebih tipis dan berperan untuk menyediakan suatu substrat di mana cilia bisa bergerak dan mendorong. Kecuali jika yang dihalangi oleh penyakit atau perbedaan anatomis, sinus pindah; gerakan lendir melalui rongga dan ke luar dari ostia ke arah choane.
Penelitian yang paling terbaru pada fungsi sinus berfokus pada molekul Nitrous Oxide (NO). Studi menunjukkan bahwa produksi Nitrous Oxide intranasal adalah secara primer pada sinus. Telah kita ketahui bahwasanya Nitrous Oxide beracun ke bakteri, jamur dan virus pada tingkatan sama rendah 100 ppb. Konsentrasi dari unsur ini dapat menjangkau 30.000 ppb dimana beberapa peneliti sudah berteori tentang mekanisme dari sterilisasi sinus. Nitrous Oxide juga meningkatkan pergerakan cilia Fisiologi dan fungsi sinus paranasal sangat kompleks. Penelitian yang berkesinambungan mungkin bisa mengungkapkan bahwa semua dari fungsi ini menjadi bagian dari suatu gambaran yang lebih luas.

Labels

2D 35 tesla hitachi 4D CT Abdomen dasar dasar radiologi dealer Detection difference fakultas kedokteran di indonesia gaster hasil pemeriksaan radiologi indonesia jenis radiologi diagnostik lutut maag doudenum of drug pada kasus abdomen akut pada kasus benda asing pelayanan radiologi pelayanan radiologi rumah sakit pemerikaan radiologi pemerikaan radiologi batu ginjal pemeriksaa radiologi knee joint pemeriksaan Pemeriksaan radiologi pemeriksaan radiologi BNO-IVP pemeriksaan radiologi bone survey pemeriksaan radiologi cruris pemeriksaan radiologi ct scan thyroid dengan 16 slice ge pemeriksaan radiologi ct-scan pada abdomen akut pemeriksaan radiologi dalam memberikan kontras pemeriksaan radiologi dengan ct-scan pemeriksaan radiologi kolon inlooop pemeriksaan radiologi pada arteri renalis pemeriksaan radiologi pada bandar narkoba pemeriksaan radiologi pada esofagus pemeriksaan radiologi pada kasus fraktur Pemeriksaan radiologi pada kasus pancreatic hypoplasia pemeriksaan radiologi reumatic artritis pemeriksaan radiologi usus besar penunjang kelancaran pemeriksaan radiologi perawatan alat x ray sebagai penunjang kelancaran pemeriksaan radiologi Potongan coronal brain MRI prosedure pemeriksaan MRI kepala dengan 0 prosedure pemeriksaan radiologi prosedure pemeriksaan radiologi MRI radiologi radiologi diagnostik Radiologi Diagnostik CT Head Enchephalitis radiologi diagnostik ct scan radiologi diagnostik ct scan kepala radiologi diagnostik hepatik karsinoid Radiologi Diagnostik Intervensional Radiologi diagnostik massa radiologi pada kasus fraktur leher rangkuman RSPI spectroscopy STUDY KONTRAS OTAK NORMAL DAN ABNORMAL DENGAN SPEKTROSKOPI MAGNETIC RESONANCE IMAGING swelling Teknik CT Scan Abdomen Kontras teknik pemeriksaan radiologi pada kasus apendisitis Ultrasound video pelatihan ct scan