Friday, May 15, 2015

Study kasus pemeriksaan radiology dengan ct scan pada kasus Tumor

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejak 1972 telah diperkenalkan suatu alat canggih, yang meskipun sangat mahal, namun telah merebut pasaran serta menempati tempat teratas dalam dunia kedokteran dalam waktu yang sangat cepat, yaitu alat tomogram yang dikendalikan dengan komputer, yang dikenal dengan Computed Assisted Tomography (CAT) atau Computed Tomography (CT) (Rasad, 1998).

Computerized Tomography (CT) telah diterima sebagai alat diagnostik yang berharga dimana-mana. Di Indonesia CT telah dipakai pada tahun 1983 di Rumah Sakit Pertamina, kemudian menyusul di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit lainnya di luar Jawa. (Rasad, 1998)

Alat CT perlu sekali untuk Rumah Sakit kelas A dan B. Diagnostik dapat dipertajam dan hari perawatan Rumah Sakit dapat dipersingkat. Sama seperti pemeriksaan Ultra Sonografi (USG), maka CT juga dapat digunakan untuk keperluan biopsi. CT juga bermanfaat dalam pembuatan rencana radioterapi (radiotherapy planning). (Rasad, 1998)

Computed Tomography Scanner (CT-Scan) merupakan teknik pengambilan gambar dari objek secara “sectional axial” dimana berkas sinar x mengitari objek, setelah menembus objek mengalami atenuasi. Kemudian ditangkap oleh detektor dan oleh photo multiplier tube, elektron dirubah menjadi sinyal-sinyal listrik kemudian sinyal listrik dikuatkan dengan penguat awal (preamplifier) dan penguat (amplifier).

CT-Scan yang sangat sederhana dan terbatas hanya untuk pemeriksaan kepala (Head Scan). Selanjutnya dikembangkan menjadi whole body scanner (Wegener, 1982). Untuk itu maka penulis akan mengujikan laporan dengan judul “PEMERIKSAAN CT-SCAN ABDOMEN DENGAN KONTRAS PADA KASUS TUMOR DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT .”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas maka dihasilkan rumusan masalah sebagai berikut :

1.2.1. Bagaimana teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . ?

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit ..

1.4. Manfaat Penulisan

1.4.1. Bagi Penulis

Dapat memperluas wawasan dan pengetahuan tentang teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor.

1.4.2. Bagi Akademi

Untuk memberikan wawasan kepada akademi dan mahasiswa ATRO Widya Husada Semarang untuk memahami, menilai dan mengadakan lebih lanjut tentang pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor.

1.4.3. Bagi Rumah Sakit

Manambah masukan bagi para radiografer dalam rangka meningkatkan mutu pelajaran serta kualitas radiograf yang dihasilkan.

1.5. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam memahami laporan ini maka penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :

Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, sistematika penulisan.

Bab II merupakan tinjauan teori yang berisi anatomi, fisiologi, patologi, teknik pemeriksaan.

Bab III merupakan hasil dan pembahasan yang berisi paparan kasus dan pembahasan.

Bab IV merupakan penutup yang berisi saran dan kesimpulan.

Daftar pustaka.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Anatomi Abdomen

Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas dari atas dari drafragma sampai pelvis di bawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar dari pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batas-batas rongga abdomen adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah pintu masuk panggul dari panggul besar, di depan dan di kedua sisi otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas dan quadratus lumborum. Bagian dari rongga abdomen dan pelvis beserta daerah-daerah (Pearce, 1999).

clip_image003_thumb

Gambar. 2.1 : Rongga Abdomen dan Pelvis (Pearce, 1999)

Keterangan :

1. Hipokhondriak kanan

2. Epigastrik

3. Hipokhondriak kiri

4. Lumbal kanan

5. Pusar (umbilikus)

6. Lumbal kiri

7. Ilium kanan

8. Hipogastrik

9. Ilium kiri

Isi dari rongga abdomen adalah sebagian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus dan usus besar (Pearce, 1999).

2.1.1. Lambung

Lambung terletak di sebelah atas kiri abdomen, sebagian terlindung di belakang iga-iga sebelah bawah beserta tulang rawannya. Orifisium cardia terletak di belakang tulang rawan iga ke tujuh kiri. Fundus lambung, mencapai ketinggian ruang interkostal (antar iga) kelima kiri. Corpus, bagian terbesar letak di tengah. Pylorus, suatu kanalis yang menghubungkan corpus dengan duodenum. Bagian corpus dekat dengan pylorus disebut anthrum pyloricum.

Fungsi lambung :

a. Tempat penyimpanan makanan sementara.

b. Mencampur makanan.

c. Melunakkan makanan.

d. Mendorong makanan ke distal.

e. Protein diubah menjadi pepton.

f. Susu dibekukan dan kasein dikeluarkan.

g. Faktor antianemi dibentuk.

h. Khime yaitu isi lambung yang cair disalurkan masuk duodenum (Pearce, 1999).

2.1.2. Usus Halus

Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter panjang dalam keadaan hidup. Usus halus memanjang dari lambung sampai katup ibo kolika tempat bersambung dengan usus besar. Usus halus terletak di daerah umbilicus dan dikelilingi usus besar. Usus halus dapat dibagi menjadi beberapa bagian :

a. Duodenum adalah bagian pertama usus halus yang panjangnya 25 cm.

b. Yeyenum adalah menempati dua per lima sebelah atas dari usus halus.

c. Ileum adalah menempati tiga pertama akhir.

Fungsi usus halus adalah mencerna dan mengabsorpsi khime dari lambung isi duodenum adalah alkali. (Pearce, 1999)

2.1.3. Usus Besar

Usus halus adalah sambungan dari usus halus dan dimulai dari katup ileokdik yaitu tempat sisa makanan. Panjang usus besar kira-kira satu setengah meter.

Fungsi usus besar adalah :

a. Absorpsi air, garam dan glukosa.

b. Sekresi musin oleh kelenjer di dalam lapisan dalam.

c. Penyiapan selulosa.

d. Defekasi (pembuangan air besar) (Pearce, 1999)

2.1.4. Hati

Hati adalah kelenjer terbesar di dalam tubuh yang terletak di bagian teratas dalam rongga abdomen di sebelah kanan di bawah diafragma. Hati Secara luar dilindungi oleh iga-iga.

Fungsi hati adalah :

a. Bersangkutan dengan metabolisme tubuh, khususnya mengenai pengaruhnya atas makanan dan darah.

b. Hati merupakan pabrik kimia terbesar dalam tubuh/sebagai pengantar matabolisme.

c. Hati mengubah zat buangan dan bahan racun.

d. Hati juga mengubah asam amino menjadi glukosa.

e. Hati membentuk sel darah merah pada masa hidup janin.

f. Hati sebagai penghancur sel darah merah.

g. Membuat sebagian besar dari protein plasma.

h. Membersihkan bilirubin dari darah (Pearce, 1999).

2.1.5. Kandung Empedu

Kandung empedu adalah sebuah kantong berbentuk terong dan merupakan membran berotot. Letaknya di dalam sebuah lekukan di sebelah permukaan bawah hati, sampai di pinggiran depannya. Panjangnya delapan sampai dua belas centimeter. Kandung empedu terbagi dalam sebuah fundus, badan dan leher. Fungsi kangdung empedu adalah :

a. Kandung empedu bekerja sebagai tempat persediaan getah empedu.

b. Getah empedu yang tersimpan di dalamnya dibuat pekat. (Pearce, 1999).

2.1.6. Pankreas

Pankreas adalah kelenjar majemuk bertandan, strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah. Panjangnya kira-kira lima belas centimeter, mulai dari duodenum sampai limpa. Pankreas dibagi menjadi tiga bagian yaitu kepala pankreas yang terletak di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan abdomen, badan pankreas yang terletak di belakang lambung dalam di depan vertebre lumbalis pertama, ekor pankreas bagian yang runcing di sebelah kiri dan menyentuh limpa.

Fungsi pankreas adalah :

a. Fungsi exokrine dilaksanakan oleh sel sekretori lobulanya, yang membentuk getah pankreas dan yang berisi enzim dan elektrolit.

b. Fungsi endokrine terbesar diantara alvedi pankreas terdapat kelompok-kelompok kecil sel epitelium yang jelas terpisah dan nyata.

Menghasilkan hormon insulin → mengubah gula darah menjadi gula otot (Pearce, 1999).

2.1.7. Ginjal

Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, terutama di daerah lumbal di sebelah kanan dari kiri tulang belakang, di belakang peritoneum. Dapat diperkirakan dari belakang, mulai dari ketinggian vertebre thoracalis sampai vertebre lumbalis ketiga ginjal kanan lebih rendah dari kiri, karena hati menduduki ruang banyak di sebelah kanan. Panjang ginjal 6 sampai 7½ centimeter. Pada orang dewasa berat kira-kira 140 gram. Ginjal terbagi menjadi beberapa lobus yaitu : lobus hepatis dexter, lobus quadratus, lobus caudatus, lobus sinistra. Fungsi ginjal adalah :

a. Mengatur keseimbangan air.

b. Mengatur konsentrasi garam dalam darah dan keseimbangan asam basa darah.

c. Ekskresi bahan buangan dan kelebihan garam. (Pearce, 1999)

2.1.8. Limpa

Terletak di regio hipokondrium kiri di dalam cavum abdomen diantara fundus ventrikuli dan diafragma.

Fungsi limpa adalah :

a. Pada masa janin dan setelah lahir adalah penghasil eritrosit dan limposit.

b. Setelah dewasa adalah penghancur eritrosit tua dan pembentuk homoglobin dan zat besi bebas.

Limpa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

a. Dua facies yaitu facies diafraghmatika dan visceralis.

b. Dua kutub yaitu ekstremitas superior dan inferior.

c. clip_image005_thumbDua margo yaitu margo anterior dan posterior.

Gambar 2.2 : Rongga Abdomen Bagian Depan.

Keterangan :

A. Diafragma

B. Esofagus

C. Lambung

D. Kaliks kiri

E. Pankreas

F. Kolon desenden

G. Kolon transversum

H. Usus halus

I. Kolon sigmoid

J. Kandung kencing

K. Apendiks

L. Sekum

M. Illium

N. Kolon asenden

O. Kandung empedu

P. Liver

Q. Lobus kanan

R. Lobus kiri

2.2. Patologi Abdomen

a. Peritonitis, merupakan radang pada peritoneum yang sangat berbahaya sebagai komplikasi dari penyebaran infeksi yang terjadi pada organ-organ abdomen seperti appendicitis, salphingitis, rupture, saluran cerna, luka tembus abdomen.

b. Obstruksi usus, merupakan penyumbatan usus yang terjadi karena adanya daya mekanik dan mempengaruhi dinding usus sehingga mengakibatkan penyempitan atau penyumbatan lumen usus.

c. Preumo peritoneum, merupakan adanya udara di dalam rongga peritoneum, (Bontrager, 2001)

d. Editis Ulseratif, merupakan penyakit dimana daerah yang luas dari usus besar meradang dan mengalami ulserasi. (Bontrager, 2001)

e. Volvulus, disebut juga torsi merupakan pemutaran usus dengan mesenterium sehingga poros. (Bontrager, 2001)

f. Tumor / neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh (Dr. Kristanto)

g. Ulkus atau tukak yaitu terjadi apabila sebagian permukaan tulang jaringan hilang sedang sekitarnya meradang. Bisa terjadi di kulit atau alat dalam seperti lambung dan usus (Dr. Kristanto).

 

2.3. Teknik Pemeriksaan

2.3.1. Peralatan Computed Tomography

a. Meja Pemeriksaan dan Gantry

Meja pemeriksaan merupakan tempat mengatur posisi pasien pada saat pemeriksaan. Bentuk panjang, permukaannya berupa kurva dan terbuat dari carbon graphite fiber yang mempunyai nilai penyerap rendah terhadap berkas sinar. Pengaturan tinggi rendah, maju mundur, dari meja pemeriksaan melalui tombol digital yang ditempatkan pada sisi meja pemeriksaan maupun pada gantry. (Anonim, 1986)

Gantry adalah peralatan CT-Scan yang berbentuk kotak, di tengahnya terdapat terowongan untuk keluar masuknya meja pemeriksaan tegak lurus, namun demikian gantry dapat diposisikan menyudut ke posisi negatif maupun positif kurang lebih 200 terhadap meja pemeriksaan.

Di dalam kotak gantry berisi tabung sinar X, filter, kolimator, lampu indikator sebagai sentrasi, DAS (Data Acquisifion System) dan detektor juga kipas sebagai pendingin. Pada gantry dilengkapi tombol digital untuk mengatur posisi gantry tersebut (Anonim, 1986).

b. DAS dan Detektor

Sinar X setelah menembus obyek diteruskan oleh detektor yang selanjutnya dilakukan proses pengolahan data.

Secara garis besar detektor dan DAS berfungsi sebagai :

1) Menangkap sinar X yang telah menembus obyek.

2) Merubah sinar X dalam bentuk sinyal-sinyal elektronik.

3) Menguatkan sinyal-sinyal elektronik.

4) Merubah sinyal elektronik ke data-data digital

Macam-macam detektor :

1) Detektor scintilasi kristal dan tabung pengganda elektron.

2) Detektor isian gas.

c. Kolimator

Kolimator pada Computed Tomography terdiri dari dua buah, yaitu :

1) Kolimator pada tabung sinar X, berfungsi :

- Mengurangi dosis radiasi.

- Pembatas luas lapangan penyinaran.

- Memperkuat berkas sinar.

2) Kolimator pada detektor, berfungsi :

- Penyearah radiasi menuju ke detektor.

- Mengontrol radiasi hambur.

- clip_image007_thumbMenentukan ketebalan pada slice thickness/vaxel.

Gambar 2.3 : Pesawat CT-Scan (Ballinger, 1995)

2.3.2. Prosedur Pemeriksaan

Lokasi untuk abdomen bawah daerah yang diambil dari pemeriksaan CT-umum dimulai dengan slice pertama di process xiphoid diteruskan ke crista illiaca. Untuk pelvis daerah yang diambil pada slice pertama dimulai dengan crista illiaca dan diteruskan ke symphysis pubis. Untuk pemeriksaan abdomen rutin tebal slice umumnya 10 mm. (Bontrager, 2001).

Pada pemeriksaan abdomen rutin dengan serial scanning membutuhkan waktu ± 1 sekon untuk melihat gerakan peristaltik dan proses respirasi. (Bontrager 2001).

a. Media Kontras

Media kontras dilakukan melalui mulut dan rectum untuk pemeriksaan CT-Abdomen dan pelvis (media kontras rectal digunakan jika media kontras oral tidak dapat masuk ke rectum). Media kontras melalui oral untuk melihat atau membedakan organ pada tractus gastrointestinal.

Media kontras oral diberikan sebelum pemeriksaan. Ada 3 (tiga) tingkatan media kontral oral diberikan pada pasien :

1) Malam hari sebelum pemeriksaan.

2) Satu jam sebelum pemeriksaan.

3) Di tengah-tengah sebelum pemeriksaan.

Ada 2 (dua) tipe kontras untuk menunjukkan opasitas pada tractus gastromtestinal yaitu barium sulfat suspensions dan water soluble solution (diatrizoate meglumine atau diatrizoate sodium) (Bontrager, 2001).

b. Irisan Axial Pada Abdomen

Lima contoh CT irisan axial pada abdomen dengan 10 mm setiap slice. Pertama dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena. Persiapan kontras oral dengan water-soluble solution.

- Irisan Axial 1

clip_image009_thumbIrisan axial 1 untuk memperlihatkan bagian atas liver. Liver dibagi menjadi dua lobus, lobus kanan dan lobus kiri.

Gambar 2.4 : Irisan Axial 1 (Bontrager, 2001)

Keterangan :

A. Lobus kanan liver

B. Lobus kiri liver

C. Lambung

D. Lambung (fundus dan bagian atas daerah lambung)

E. Spleen

F. Vertebre Thoracal 10 dan Vertebre Thoracal 11

G. Aorta abdominal

H. Vena Cava Inferior

- Irisan Axial 3

Irisan axial 3 untuk melihat ekor pankreas. Ekor pankreas terletak di depan ginjal kiri.

clip_image011_thumb

Gambar 2.5 : Irisan Axial 3 (Bontrager, 2001)

Keterangan :

A. Lobus kanan liver dari posterior

B. Kantong empedu

C. Lobus kiri liver

D. Lambung

E. Kolon desenden

F. Ekor pankreas

G. Spleen

H. Bagian atas lobus kiri ginjal

I. Kelenjar adrenal sebelah kiri

J. Vetebra Thoracal 11 – Thoracal 12

K. Vena Cava Inferior

L. Bagian atas lobus kanan ginjal

- Irisan Axial 5

clip_image013_thumbIrisan axial 5 melihat bagian ke dua duodenum. Kepala pankreas terletak di luar dari duodenum. Jika bagian ke dua duodenum terlihat putih, maka dapat dikatakan tumor pankreas.

Gambar 2.6 : Irisan Axial 5 (Bontrager, 2001)

Keterangan :

A. Lobus kanan liver

B. Kantong empedu

C. Bagian ke dua duodenum

D. Lobus kiri liver

E. Lambung (pylorus)

F. Jejenum

G. Kolon desenden

H. Ginjal kiri

I. Aorta Abdominal

J. Vetebra Lumbal I

K. Vena Cava Inferior

L. Kepala pankreas

- Irisan Axial 7

clip_image015_thumbIrisan axial 75 memperlihatkan bagian tengah ginjal.

Gambar 2.7 : Irisan Axial 7 (Bontranger, 2001)

Keterangan :

A. Inferior lobus liver

B. Pankreas

C. Kandung empedu

D. Kolon (asenden dan tranversum)

E. Jejenum

F. Kolon desenden

G. Renal pelvis ginjal kiri

H. Aorta Abdominal

I. Vetebra Lumbal I

J. Vena Cava Inferior

- Irisan Axial 8.

Irisan axial 8 adalah 2 cm ke arah bawah renal pelvis pada ginjal dan perjalanan kontras menuju ureter pada ginjal.

clip_image017_thumb

Gambar 2.8 : Irisan Axial 8 (Bontranger, 2001)

Keterangan :

A. Inferior lobus liver

B. Kolon asenden

C. Vena Cava Inferior

D. Aorta

E. Jejenum

F. Kolon desenden

G. Ginjal kiri

H. Ureter kiri

I. Vertebra Lumbal 2- lumbal 3

J. Muskulus psoas major

K. Ureter kanan.

2.3.3. Pengolahan Film

Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang berbentuk emulasi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui proses kimia. (Jenkin, D, 1980)

Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan kecepatan tatap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari proses manual sehingga waktunya lebih cepat.

 

2.3.4. Proteksi Radiasi

Proteksi radiasi untuk pemeriksaan CT-Scan yang harus diperhatikan adalah ruangan pemeriksaan harus tertutup rapat pada saat pemeriksaan berlangsung karena radiasi yang dihasilkan sangat besar dan dinding dari ruangan pemeriksaan maupun ruang operator harus dilapisi timbal agar radiasi tidak tembus. Sehingga akan mengurangi dosis bagi petugas radiologi. (Batan, 1995)

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Paparan Kasus

3.1.1. Ilustrasi Kasus

Dalam laporan ini penulis menggunakan laporan kasus dari pemeriksaan pada tanggal 1 November 2006 dengan identitas pasien sebagai berikut :

Nama : Ny. M

Umur : 43 th

Jenis Kelamin : Wanita

Alamat : Tampingan Bojo Kendal

No. CM : 214057

No. Foto : CT. 629

Dr. Pengirim : Dr. Johny S, Sp.GD

Permintaan Foto : CT-Scan Abdomen Dengan Kontras

Dengan Riwayat Penyakit :

Dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun, pasien merasakan ada benjolan di dalam perut. Benjolan itu kadang membesar pada saat menstruasi dan kadang mengecil. Pasien tidak merasakan sakit atau nyeri pada bagian perut. Pasien periksa ke dokter umum dikatakan kanker kandungan. Periksa lagi ke dokter spesialis kandungan dikatakan tumor kandungan. Setelah itu periksa ke Rumah Sakit . ke dokter bedah, dokter menyarankan untuk CT-Scan Abdomen dengan kontras.

3.1.2. Prosedur Pemeriksaan

Prosedur pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor, di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . memerlukan persiapan alat dan bahan persiapan pasien. Pasien datang ke Instalasi Radiologi kemudian mendaftar ke loket pendaftaran. Selanjutnya menunggu panggilan untuk pemeriksaan.

3.1.3. Persiapan Alat dan Bahan

Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . adalah sebagai berikut :

a. Alat dan Bahan Steril :

1) Media kontras : telebrix 35, 20 cc

lopamiro 300, 100 ml

2) Abbocath

3) Spuit 20 cc

4) Kasa alkohol

5) Infus Dextrose 5 % - 100 ml

6) Selang infus

7) Gelas

b. Alat dan Bahan Tidak Steril

1) Pesawat CT-Scan

2) Film CT-Scan merk Kodak

3) Standar infus

3.1.4. Persiapan Pasien

Persiapan pasien untuk pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . adalah :

a. Sebelum dilakukan pemeriksaan CT-Scan, pasien puasa 5 jam sebelumnya.

b. Satu jam sebelum pemeriksaan, pasien minum media kontras 10 cc telebrix dicampurkan air satu gelas (200 cc).

c. Lima belas menit sebelum pemeriksaan pasien minum 10 cc telebrix dicampur air satu gelas (200 cc).

3.1.5. Teknik Pemeriksaan

Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit ., teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor, setelah semua persiapan sudah baik, pasien diperintah untuk tidur di atas meja pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan.

Teknik pemeriksaan yang digunakan adalah :

a. Proyeksi Antero Posterior Polos Abdomen (Pre kontras)

clip_image018_thumbDi Rumah Sakit . menggunakan Scan (S) dan View (V) = 10 mm dan 20 mm dapat digambarkan sebagai berikut :

Pemotretan dilakukan saat pasien tarik nafas, kemudian ditahan.

b. Proyeksi Antero Posterior Post Kontras

Yang pertama dilakukan pilih menu.

Yang kedua : test → 10 cc → ditunggu ± 5 menit bila pasien tidak muntah → dilanjutkan yang ketiga : memasukkan kontras 100 ml → 75 ml → dilakukan pemeriksaan pengambilan gambar sesuai dengan polos (kemungkinan bisa diambil gambar yang telah detail atau lebih tipis bila ditemukan kelainan lain). Pemotretan dilakukan saat pasien tarik nafas, kemudian ditahan.

Bila sudah selesai pemeriksaan, meja pasien dikembalikan seperti semula. Infus obat diganti dengan Dextrose 5% 100 ml (bila pasien rawat jalan, bila pasien rawat inap diganti dengan infus yang dibawakan dari ruangan). Pasien ditunggu ± 10 menit → bila tensi dan nadi baik → pasien bisa kembali ke ruangan.

Keuntungan CT-Scan adalah :

a. Dapat melihat lebih detail (lesi kecil dapat terlihat) dibanding dengan pesawat konvensional.

b. Terdapat memori di monitor, bila ingin menampilkan atau melihat gambar lagi dapat ditampilkan kembali.

c. Pengambilan gambar dapat disesuaikan atau dipilih sesuai dengan letak lesinya.

Kerugian CT-Scan adalah :

a. Tabung CT-Scan bisa habis karena slice yang telah terpakai.

b. Radiasi yang dihasilkan sangat besar dibanding dengan pesawat konvensional.

3.1.6. Pengolahan Film

Pengolahan film CT-Scan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . secara otomatis. Setelah penyinaran, gambar dipindah ke dalam alat print lalu diprint. Setelah itu film dibawa ke kamar gelap untuk dilakukan pencucian dengan menggunakan waktu 5 menit agar menghasilkan gambaran permanen.

Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang terbentuk emulsi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui proses kimia.

Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan kecepatan tetap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari pada proses manual sehingga waktunya lebih cepat.

3.1.7. Proteksi Radiasi

Proteksi radiasi di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . pada pemeriksaan CT-Scan adalah pintu dipastikan tertutup dan terkunci pada saat penyinaran karena radiasi yang dihasilkan oleh pesawat CT-Scan sangat besar, dan dinding dilapisi timbal 2 mm Pb.

3.2. Pembahasan

Dalam pemeriksaan CT-Scan dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit ., teknik pemeriksaan yang digunakan adalah proyeksi Antero Posterior Polos Abdomen, dan proyeksi Antero Posterior Post kontras. Kedua proyeksi tersebut sudah sesuai dengan teori Bontrager, 2001.

Dengan proyeksi-proyeksi tersebut sudah dapat menegakkan diagnosa, dengan demikian tidak ada proyeksi tambahan dalam pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor. Pemeriksaan ini menggunakan film ukuran 1 x 14 inchi dengan merk Kodak.

Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . pada pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor menggunakan media kontras lopamiro 300, 100 ml dan telebrix 35, 20 cc. Sedangkan menurut Ballinger, 2001 media kontras yang digunakan barium sulfat.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari uraian di atas tentang pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit ., maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

4.1.1. Pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan kontras pada kasus tumor di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . menggunakan proyeksi Antero Posterior Polos Abdomen (proyeksi Antero Posterior Pre kontras), proyeksi Antero Posterior Post kontras.

4.1.2. Menggunakan film ukuran 1 x 14 inchi merk Kodak.

4.1.3. Menggunakan media kontras lopamiro 300, 100 ml dan telebrix 35, 20cc.

4.2. Saran

4.2.1. Sebaiknya petugas di Instalasi Radiologi Rumah Sakit . menggunakan film badge.

4.2.2. Dalam pemeriksaan CT-Scan sebaiknya dilengkapi dengan Dry View, agar gambar yang dihasilkan selalu stabil atau baik.

4.2.3. Dalam pemeriksaan CT-Scan, gambar yang telah tercetak sebaiknya pada awal akan diprint dipilih kembali, agar dalam penggunaan film lebih ekonomis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1986. Tehnical Guide Whole Body X-Ray System. Hitachi Medical Corporation. Tokyo.

Ballinger, PW. 1995. Radiographic Position and Procedures. Volume Two Eighth and Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.

Bontrager, KL. 2001. Texbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy. Fifth Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.

Kristanto, Dr. Diktat Patologi. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Mulyasih, Sri. 1999. Kalibrasi Computed Tomography Scanner Menggunakan Phantom. Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Diponegoro. Semarang.

Pearce, E.C. 1999. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Edisi ke-19 PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.

Rasad, Sjahriar. 1998. Radiologi Diagnostik. Sub Bagian Radiodiagnostik Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Gaya Baru. Jakarta.

Wegener, OII. 1982. Tehnique of Computerized Tomography in Whole Body Computerized Tomography. Associated With Schering Corp. Kenil Worth. USA.

LAMPIRAN

Artikel Terkait

Study kasus pemeriksaan radiology dengan ct scan pada kasus Tumor
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email