Saturday, July 4, 2015

Study Kasus Pada Pemeriksaan Radiology dengan ct scan pada kasus nefroblastoma

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejak 1972 telah diperkenalkan suatu alat canggih, yang meskipun sangat mahal, namun telah merebut pasaran serta menempati tempat teratas dalam dunia kedokteran dalam waktu yang sangat cepat, yaitu alat tomogram yang dikendalikan dengan komputer, yang dikenal dengan Computed Assisted Tomography (CAT) atau Computed Tomography (CT) (Rasad, 1998).
Computerized Tomography (CT) telah diterima sebagai alat diagnostik yang berharga dimana-mana. Di Indonesia CT telah dipakai pada tahun 1983 di Rumah Sakit Pertamina, kemudian menyusul di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit lainnya di luar Jawa. (Rasad, 1998)
Alat CT perlu sekali untuk Rumah Sakit kelas A dan B. Diagnostik dapat dipertajam dan hari perawatan Rumah Sakit dapat dipersingkat. Sama seperti pemeriksaan Ultra Sonografi (USG), maka CT juga dapat digunakan untuk keperluan biopsi. CT juga bermanfaat dalam pembuatan rencana radioterapi (radiotherapy planning). (Rasad, 1998)
CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-x, komputer dan televisi sehingga mampu menmpilkan gambar anatomis tubuh dalam manusia dalam bentuk irisan atau slice. Prinsip kerja CT-Scan menggunakan sinar-x sebagai sumber radiasi. Sinar-x berasal dari tabung yang terletak berhadapan dengan sejumlah detektor, dimana keduanya bergerak secara sinkron memutari pasien sebagai objek yang ditempatkan diantaranya.(Rasad, 2000)
CT-Scan yang sangat sederhana dan terbatas hanya untuk pemeriksaan kepala (Head Scan). Selanjutnya dikembangkan menjadi whole body scanner (Wegener, 1982). Untuk itu maka penulis akan mengujikan laporan dengan judul “PEMERIKSAAN CT-SCAN UPPER DAN LOWER ABDOMEN DENGAN KONTRAS PADA KASUS NEFROBLASTOMA DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR..”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan di atas maka dihasilkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana teknik pemeriksaan CT-Scan Upper dan Lower Abdomen pada kasus nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat Dr..?
2. Bagaimana teknik penggunaan media kontras pada pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr..?
1.3. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen pada kasus nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr...
  2. Mengetahui teknik penggunaan media kontras pada pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen di Instalasi Radiologi Rumah sakit umum .
1.4. Manfaat Penulisan
  1. Bagi Penulis
Dapat memperluas wawasan dan pengetahuan tentang teknik pemeriksaan CT-Scan Upper dan lower Abdomen dengan kontras pada kasus nefroblastoma .
  1. Bagi Akademi
Untuk memberikan wawasan kepada akademi dan mahasiswa ATRO Yayasan citra bangsa yogyakarta untuk memahami, menilai dan mengadakan lebih lanjut tentang pemeriksaan CT-Scan Upper dan lower Abdomen dengan kontras pada kasus nefroblastoma..
  1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai tambahan informasi bagi Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr,., untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan serta kualitas radiograf secara optimal untuk dapat menegakkan diagnosa dengan tepat.
1.5. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun laporan ini disusun secara sistematis, adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Yang meliputi : Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Yang meliputi : Anatomi dan fisiologi abdomen, patologi , peralatan dasar CT-Scan,teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen, dan media kontras yang digunakan dalam pemeriksaan CT-Scan Abdomen.
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
Terdiri dari hasil dan pembahasan yang berisi tentang paparan kasus, dan tata laksana pemeriksaan CT-Scan Abdomen di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr.sardjito yogyakarta
BAB IV PENUTUP
Berisi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Anatomi fisiologi Abdomen
clip_image003Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas dari atas dari drafragma sampai pelvis di bawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian, abdomen yang sebenarnya yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar dari pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih kecil. Batas-batas rongga abdomen adalah di bagian atas diafragma, di bagian bawah pintu masuk panggul dari panggul besar, di depan dan di kedua sisi otot-otot abdominal, tulang-tulang illiaka dan iga-iga sebelah bawah, di bagian belakang tulang punggung dan otot psoas dan quadratus lumborum. Bagian dari rongga abdomen dan pelvis beserta daerah-daerah (Pearce, 1999).
Gambar. 2.1 : Rongga Abdomen dan Pelvis (Pearce, 1999)
Keterangan :
1. Hipokhondriak kanan
2. Epigastrik
3. Hipokhondriak kiri
4. Lumbal kanan
5. Pusar (umbilikus)
6. Lumbal kiri
7. Ilium kanan
8. Hipogastrik
9. Ilium kiri
Abdomen adalah suatu rongga yang dilapisi oleh lapisan peritoneum baik organ maupun dindingnya. Lapisan peritoneum yang melapisi rongga abdomen disebut peritoneum parietal dan yang melapisi semua organ dalam abdomen di sebut peritoneum visceral. Adapun organ-organ yang terdapat dalam rongga abdomen di golongkan sebagai berikut :
2.1.1 Organ Traktus Digestivus (Syaifuddin, 1997)
Organ Abdomen yang berhubungan dengan traktus digestivus adalah sebagai berikut :
1. Gaster (lambung)
Bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster. Lambung biasanya memiliki bentuk J dan terletak di kuadran kiri atas abdomen.
Lambung terdiri dari bagian-bagian yaitu :
a. Fundus Ventrikuli
Bagian yang menonjol ke atas terletak di sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.
b. Korpu Ventrikuli
Letaknya setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor.
c. Antrum Pylorus
Bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pylorus.
d. Kurvatura Minor
Terdapat di sebelah kanan lambung terbentang dari osteum kardiak sampai ke pylorus.
e. Kurvatura Mayor
Terbentang dari sisi kiri osteum kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pylorus inferior.
f. Osteum Kardium
Merupakan tempat di mana oesophagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.
2. Usus Halus
Intestinal minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus serta berakhir pada seikum dan panjangnya 6 meter, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan.Usus halus memanjang dari lambung sampai katup ibo kolika tempat bersambung dengan usus besar. Usus halus terletak di daerah umbilicus dan dikelilingi usus besar. Usus halus dapat dibagi menjadi beberapa bagian :
a. Duodenum
Panjang 25 cm berebntuk sepatu kuda melengkung ke kiri dan pada lengkungan ini terdapat pankreas.
b. Jejunum dan Ileum
Panjang 6 meter, 2/5 bagian atas jejunum dengan panjang 2-3 meter dan 3/5 nya adalah ileum dengan panjang 4-5 meter. Ujung bawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantara lubang yang bernama orifisium ileoseikalis
3. Usus Besar
Usus besar adalah sambungan dari usus halus dan dimulai dari katup ileokdik yaitu tempat sisa makanan. Usus besar mempunyai panjang kira-kira 1,5 meter dan lebar 5-6 cm.
Usus besar terdiri dari :
a. Seikum
Di bawah seikum terdapat appendiks vemivormis yang berbentuk seperti cacing sehingga disebut juga umbai cacing dengan panjang 6 cm.
b. Kolon Ascenden
Panjangnya 13 cm terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari osteum ke bawah hati. Di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica dilanjutkan sebagai kolon transversum.
c. Appendiks
Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir seikum dan mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dilewati oleh beberapa isi usus. Appendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk ke dalam rongga pelvis minor terletak horizontal di belakang seikum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi kadang appendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa menimbulkan perforasi dindingnya ke dalam rongga abdomen.
d. Kolon Transversum
Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon ascendens sampai kolon descendens, berada di bawah abdomen; sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis.
e. Kolon Descendens
Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri, membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan rectum.
f. Rectum
Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrumdan os coxygeus.
g. Anus
Bagian dari sistem pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis dan diperkuat oleh sfingter ani internus (bagian atas), sfingter levatorani (bagian tengah) dan sfingter ani eksternus (bagian bawah).
clip_image005
Gambar 1 : Rongga Abdomen Bagian Depan
Keterangan :
A. Diafragma
B. Esofagus
C. Lambung
D. Kaliks kiri
E. Pankreas
F. Kolon Descenden
G. KolonTransversm
H. Usus Halus
I. Kolon Sigmoid
J. Kandung Kencing
K. Appendiks
L. Sekum
M. Illium
N. Kolon Ascenden
O. Kandung Empedu
P. Liver
Q. Lobus Kanan
R. Lobus Kiri
2.1.2 Pelengkap Organ Digestivus (Syaifuddin, 1997)
Ada tiga organ yang melengkapi organ digestivus, yaitu :
1. Pankreas
Pancreas merupakan sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah, panjangnya 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya 60-90 gram. Terbentang dari vertebra lumbal I dan II di belakang lambung. Pankreas dibagi menjadi tiga bagian yaitu kepala pankreas yang terletak di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lekukan abdomen, badan pankreas yang terletak di belakang lambung dalam di depan vertebre lumbalis pertama, ekor pankreas bagian yang runcing di sebelah kiri dan menyentuh limpa.
2. Hati
Hati terletak pada bagian atas dalam rongga abdomen, di sebelah kanan bawah diafragma dan beratnya 1,5 kg. Hati terbagi atas dua lapisan, yaitu permukaaan atas berbentuk cembung terletak di bawah diafragma dan permukaan bawah tidak rata serta memperlihatkan fisura transversus.
Hati mempunyai dua jenis peredaran darah, yaitu arteri hepatica dan vena porta. Arteri hepatica merupakan cabang arteri coeliaka yang merupakan cabang aorta abdominalis bagian atas dan 20% darah menuju hepar melalui arteri ini. Vena porta membawa darah dari lambung, usus, limpa, dan pankreas secara langsung untuk hepar; 80% darah untuk hepar melalui vena ini.
3. Kandung empedu
Merupakan suatu kantong berbentuk terang dan merupakan membran berotot, letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaaan bawah hati sampai pinggir depannya, dengan panjang 812 cm berisi 60 cm.
2.1.3 Sistem Urinaria (Syaifuddin, 1997)
Sistem urinaria terdiri dari organ-organ sebagai berikut :
1. Ginjal
Ginjal terletak di bagian belakang dari kavum abdominalis, di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbaris III dan melekat pada dinding belakang abdomen. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua yaitu kiri dan kanan. Pada keadaan normal, letak ginjal kiri lebih tinggi dari ginjal kanan.
Ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrous berwarna ungu tua, lapisan luar terdapat lapisan korteks (subtantia kortekalis) dan lapisan sebelah dalam bagian medula (subtantia medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal piramid. Puncak kerucut tadi menghadap kaliks terdiri dari lubang kecil yang disebut papila renalis. Ginjal terdiri dari dua kaliks, yaitu kaliks minor dan kaliks mayor. Kaliks minor akan berkumpul menjadi kaliks mayor dan kemudian berkumpul membentuk kaliks renalis.
2. Ureter
Ureter terdiri dari dua saluran pipih, masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) dengan panjang 25-30 cm, penampang 0,5 cm. Letak ureter sebagian di dalam rongga abdomen dan sebagian terletak di rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa), lapisan tengah lapisan otot polos dan lapisan sebelah dalam lapisan mukosa. Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan peristaltik setiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Ureter berjalan vertikal ke bawah sepanjang fasia muskularis psoas dan dilapisi peritoneum. Ada tiga tempat penyempitan ureter, yaitu : pelvco uretro juntio, vesico uretro juntion, dan pelvic brim.
3. Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simphisis pubis dalam rongga panggul. Bentuknya seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.
untuk menampung jumlah urine yang banyak. Kandung kemih mempunyai tiga bagian, yaitu : fundus, korpus dan vertek.
4. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih dan berfungsi untuk menyalurkan air kemih keluar. Pada laki-laki, uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis bagian bawah, panjangnya 20 cm. Uretra laki-laki terdiri dari uretra prostatika, membranosa dan kavernosa. Uretra pada laki-laki berfungsi sebagai saluran ekskresi dan saluran pengeluaran sperma.
Pada wanita uretra terletak di belakang simphisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya 3-4 cm. Muara uretra wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi.
2.2. Patologi Nefroblastoma
2.2.1 Pengertian Nefroblastoma
Nefroblastoma atau yang biasanya disebut dengan (tumor wilms) adalah kanker ginjal yang ditemukan pada anak-anak.
tumor wilms biasanya ditemukan pada anak-anak yang berumur kurang dari 5 tahun tetapi kadang ditemukan pada anak yang lebih besar atau orang dewasa.
2.2.2 Penyebab
Penyebabnya tidak diketahui ,teta[pi diduga melibatkan faktor genetik.
Tumor wilms berhubungan dengan kelainan bawaan tertentu ,seperti :
- Kelainan saluran kemih
- Aniridia (tidak memiliki iris)
- Hemihipertrofi (pembesaran separuh sebagian tubuh)
Tumor bisa tumbuh cukup besar, tetapi biasanya tetap berada didalam kapsulnya, tumor bisa meyebarkebagian tubuh lainya.
Tumor wilms ditemukan pada 1 diantara 200.000-250.000 anak-anak
2.2.3 Gejala
Gejalanya adalah :
- Perut membesar (misalnya memerlukan diaper/popok yang berukuran lebih besar)
- Nyeri perut
- Demam
- Malaise (merasa tidak enak badan)
- Nafsu makan berkurang
- Mual dan muntah
- Sembelit
- Pertumbuhan berlebihan pada salah satu tubuh (hemihipertrofi)



2.3. Dasar-dasar CT-Scan
CT-Scan merupakan perpaduan antara teknologi sinar-X, komputer dan televisi. Prinsip kerjanya yaitu berkas sinar-X yang terkolimasi dan adanya detektor. Di dalam komputer terjadi proses pengolahan dan perekonstruksian gambar dengan penerapan prinsip matematika atau yang lebih dikenal dengan rekonstruksi algorithma. Setelah proses pengolahan selesai, maka data yang telah diperoleh berupa data digital yang selanjutnya diubah menjadi data analog untuk ditampilkan ke layar monitor. Gambar yang ditampilkan dalam layar monitor selanjutnya diubah menjadi data analog untuk ditampilkan ke layar monitor. Gambar yang ditampilkan dalam layar monitor berupa informasi anatomis irisan tubuh.
Pada CT-Scan prinsip kerjanya hanya dapat menggambarkan tubuh dengan irisan melintang tubuh. Namun dengan memanfaatkan teknologi komputer maka gambaran aksial yang telah didapatkan dapat direformat kembali sehingga sehingga didapatkan gambaran coronal, sagital, oblik. diagonal bahkan bentuk 3 dimensi dari objek tersebut. (Rasad, 2000).
2.3.1 Perkembangan CT-Scan (Rasad, 2000)
Setelah Godfrey Hounsfield dari EMI Limited London dan James Ambrosse dari Atkinson Morley ‘s Hospital mulai memperkenalkan CT-Scan pada tahun 1970 di London Inggris, maka CT-Scan mengalami perkembangan yang cukup pesat. CT-Scan pada masa tersebut hanya dapat menggambarkan kepala dengan waktu pemeriksaan yang cukup lama. Pada periode-periode selanjutnya CT-Scan mengalami berbagai pembaharuan, dimulai dari CT-Scan generasi II hingga CT-Scan generasi ke IV. Pada prinsipnya pembaharuan tersebut terletak pada fungsi pemeriksaan dan waktu pemeriksaan yang semakin singkat.
Pada tahun 1990, CT-Scan mengalami kemajuan yang cukup penting, yaitu mulai diperkenalkannya CT Helical atau CT-Spiral. Keunggulan dari alat ini waktu eksposi yang semakin singkat. CT Helical menggunakan metode Slip ring yang pada prinsipnya menggantikan kabel-kabel tegangan tinggi yang terpasang pada tabung sinar-X di dalam gantry yang disertai dengan pergerakan meja. Dengan metode ini, tabung sinar-X dapat berotasi secara terus menerus sambil mengeksposi pasien yang bergerak secara sinkron. Prinsip itulah yang dikenal dengan spiral. Di dalam CT Helical dikenal prinsip single slice. Perbedaan utama dari kedua prinsip ini terletak pada jumlah jalur detektor yang berpengaruh pada lamanya pemeriksaan dan resolusi gambar yang dihasilkan.
2.3.2 Komponen-komponen CT-Scan Generasi Ke II (Tortorici, 1995 )
a. Gantry
Di dalam CT-Scan, pasien berada di atas meja pemeriksaan dan meja tersebut dapat bergerak menuju gantry. Gantry ini terdiri dari beberapa perangkat keras yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menghasilkan suatu gambaran. Perangkat keras tersebut antara lain tabung sinar-X, kolimator, dan detektor.
b. Tabung Sinar-X
Berdasarkan strukturnya tabung sinar-X sangat mirip dengan tabung sinar-X konvensional, namun perbedaannya terletak pada kemampuannya untuk menahan panas dan output yang tinggi. Panas yang cukup tinggi dengan elektron-elektron yang menumbuknya. Ukuran fokal spot yang cukup kecil (kurang dari 1 mm) sangat dibutuhkan untuk menghasilkan resolusi yang tinggi.
c. Kolimator
Kolimator berfungsi untuk mengurangi radiasi hambur, membatasi jumlah sinar-X yang sampai ke tubuh pasien serta untuk meningkatkan kualitas gambar, tidak seperti pada pesawat radiografi konvensional. CT-Scan menggunakan 2 buah kolimator. Kolimator pertama diletakkan pada rumah tabung sinar-X yang disebut pre pasien kolimator dan kolimator yang kedua diletakkan antara pasien dan detektor yang disebut per detektor kolimator atau post pasien kolimator.
d. Detektor
Selama eksposi, berkas sinar-X (foton) menembus pasien dan mengalami perlemahan (attenuasi). Sisa-sisa foton yang telah terattenuasi kemudian ditangkap oleh detektor. Ketika detektor menerima sisa-sisa foton tersebut, foton berinteraksi dengan detektor dan memproduksi sinyal dengan arus yang kecil yang disebut sinar output analog. Sinyal ini besarnya sebanding dengan intensitas radiasi yang diterima. Kemampuan penyerapan detektor yang tinggi akan berakibat kualitas gambar yang dihasilkan menjadi lebih optimal. Detektor memiliki 2 tipe yaitu detektor solid stete dan detektor irisan gas.
e. Meja Pemeriksaan (Couch)
Meja pemeriksaan merupakan tempat untuk memposisikan pasien. Meja ini biasanya terbuat dari fiber karbon. Dengan adanya bahan ini maka sinar-x yang menembus pasien tidak terhalangi jalannya untuk menuju detektor. Meja ini harus kuat dan kokoh mengingat fungsinya untuk menopang tubuh pasien selama meja bergerak ke dalam gantry.
f. Sistem Konsul
Konsul tersedia dalam berbagai variasi. CT-Scan generasi awal masih menggunakan 2 sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT-Scan sendiri dan untuk perekaman dan pencetakan gambar.
Model yang terbaru sudah memiliki banyak kelebihan dan banyak fungsi.
Bagian dari sistem konsul ini yaitu :
1. Sistem Kontrol
Pada bagian ini petugas dapat mengontrol parameter-parameter yang berhubungan dengan beroperasinya CT-Scan seperti pengaturan kV, mA dan waktu scanning, ketebalan irisan (Slice thickness), dan lain-lain. Juga dilengkapi dengan keyboard untuk memasukkan data pasien dan pengontrol fungsi tertentu dalam komputer.
2. Sistem Pencetakan Gambar
Setelah gambar CT-Scan diperoleh, gambaran tersebut dipindahkan dalam bentuk film. Pemindahan ini menggunakan kamera multi format. Cara kerjanya yaitu kamera merekam gambaran di monitor dan memindahkannya ke dalam film. Tampilan gambaran di film dapat mencapai 2-24 gambar tergantung ukuran film (biasanya 8 x 10 inchi atau 14 x 17 inchi).
3. Sistem Perekaman Gambar
Merupakan bagian penting yang lain dari CT-Scan. Data pasien yang telah ada disimpan dan dapat dipanggil kembali dengan cepat. Biasanya sistem perekaman ini berupa disket optik dengan kemampuan penyimpanan sampai ribuan gambar. Ada pula yang menggunakan magnetic tape dengan kemampuan penyimpanan data hanya sampai 200 gambar.
clip_image008
1 2
Gambar 2 : Komponen CT-Scan
(Bontrager, 2001)
Keterangan :
1. Gantry dan couch (meja pemeriksaan)
2. Komputer dan console
2.3.3 Parameter CT-Scan
Gambaran pada CT-Scan dapat terjadi sebagai hasil dari berkas-berkas sinar-X yang mengalami perlemahan serta menembus objek, ditangkap detektor, dan dilakukan pengolahan di dalam komputer. Penampilan gambar yang baik tergantung dari kualitas gambar yang dihasilkan sehingga aspek klinis dari gambar tersebut dapat dimanfaatkan dalam rangka untuk menegakkan diagnosa. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam CT-Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan output gambar yang optimal.
a. Slice Thickness
Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari objek yang diperiksa. Nilainya dapat dipilih antara 1 - 10 mm sesuai dengan keperluan klinis. Pada umumnya ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan detail yang rendah, sebaliknya yang tipis akan menghasilkan gambaran dengan detail yang tinggi.
b. Range
Range atau rentang adalah perpaduan atau kombinasi dari beberapa slice thickness. Sebagai contoh untuk CT-Scan thorax, range yang digunakan adalah sama yaitu 5-10 mm mulai dari apeks paru sampai diafragma. Pemanfaatan dari range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang sama pada satu lapangan pemeriksaan.
c. Faktor Eksposi
Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap eksposi meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung (mA) dan waktu eksposi (s). Besarnya tegangan tabung dapat dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan. Namun kadang-kadang pengaturan tegangan tabung diatur ulang untuk menyesuaikan ketebalan objek yang akan diperiksa (rentangnya antara 80 – 140 kV). Tegangan tabung yang tinggi biasanya dimanfaatkan untuk pemeriksaan paru dan struktur tulang seperti pelvis dan vertebra. Tujuannya adalah untuk mendapatkan resolusi gambar yang tinggi sehubungan dengan letak dan struktur penyusunnya.
d. Field of View (FoV)
Field of View adalah maksimal dari gambaran yang akan direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-50 cm. FoV yang kecil maka akan mereduksi ukuran pixel (picture element), sehingga dalam proses rekonstruksi matriks gambarannya akan menjadi lebih teliti. Namun, jika ukuran FoV terlalu kecil maka area yang mungkin dibutuhkan untuk keperluan klinis menjadi sulit untuk dideteksi.
e. Gantry tilt
Gantry tilting adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry (tabung sinar-x dan detektor). Rentang penyudutan –250 sampai + 250. Penyudutan dari gantry bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-masing kasus yang harus dihadapi. Di samping itu, bertujuan untuk mereduksi dosis radiasi terhadap organ-organ yang sensitif seperti mata.
f. Rekonstruksi Matriks
Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom pada picture element (pixel) dalam proses perekonstruksian gambar. Pada umumnya matriks yang digunakan berukuran 512 x 512 (5122) yaitu 512 baris dan 512 kolom. Rekonstruksi matriks ini berpengaruh terhadap resolusi gambar yang akan dihasilkan. Semakin tinggi matriks yang dipakai maka semakin tinggi resolusi yang akan dihasilkan.
g. Rekonstruksi Algorithma
Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis (algorithma) yang digunakan dalam merekonstruksi gambar. Hasil dan karakteristik dari gambar CT-Scan tergantung pada kuatnya algorithma yang dipilih. Sebagian besar CT-Scan sudah memiliki standar algorithma tertentu untuk pemeriksaan kepala, abdomen, dan lain-lain. Semakin tinggi resolusi algorithma yang dipilih, maka semakin tinggi pula resolusi gambar yang akan dihasilkan. Dengan adanya metode ini maka gambaran seperti tulang, soft tissue, dan jaringan-jaringan lain dapat dibedakan dengan jelas pada layar monitor.
h. Window Width
Window Width adalah rentang nilai computed tomography yang akan dikonversi menjadi gray levels untuk ditampilkan dalam TV monitor.
Setelah komputer menyelesaikan pengolahan gambar melalui rekonstruksi matriks dan algorithma maka hasilnya akan dikonversi menjadi skala numerik yang dikenal dengan nama nilai computed tomography. Nilai ini mempunyai satuan HU (Hounsfield Unit) yang diambil dari nama penemu CT-Scan kepala pertama kali yaitu Godfrey Hounsfield.
Berikut ini tabel nilai CT pada jaringan yang berbeda penampakannya pada layar monitor (Bontrager, 2001)
Tipe jaringan Nilai CT (HU) Penampakan
Tulang
Otot
Materi putih
Materi abu-abu
Darah
CSF
Air
Lemak
Paru
Udara








+1000
+50
+45
+40
+20
+15
0
-100
-200
-1000








Putih
Abu-abu
Abu-abu menyala
Abu-abu
Abu-abu
Abu-abu
Abu-abu gelap ke hitam
Abu-abu gelap ke hitam
Hitam







Dasar pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU. Untuk tulang mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai + 3000 HU. Sedangkan untuk kondisi udara nilai ini adalah air dengan yang dimiliki – 1000 HU. Diantara rentang tersebut merupakan jaringan atau substansi lain dengan nilai berbeda-beda pula tergantung pada tingkat perlemahannya. Dengan demikian penampakan tulang dalam monitor menjadi putih dan penampakan udara hitam. Jaringan dan substansi lain akan dikonversi menjadi warna abu-abu yang bertingkat yang disebut Gray Scale. Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya berwarna abu-abu dapat menjadi putih jika diberi media kontras Iodine.
i. Window Level
Window level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampakan gambar. Nilainya dapat dipilih tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur objek yang diperiksa. Window level ini menentukan densitas gambar yang akan dihasilkan.
2.4 Teknik Pemeriksaan
Ada beberapa teknik pemeriksaan CT-Scan pada organ Abdomen, yaitu :
2.4.1 Teknik Pemeriksaan CT-Scan upper Abdomen
Dalam pemeriksaan CT-Scan upper Abdomen difokuskan pada organ abdomen bagian atas sehingga lebih dikenal dengan CT-Scan Upper Abdomen.
a. Pengertian
CT-Scan Abdomen adalah suatu pemeriksaan radiologi dengan menggunakan pesawat CT-Scan baik dengan atau tanpa menggunakan media kontras guna mengetahui kelainan atau penyakit pada organ yang berada dalam rongga abdomen.
b. Indikasi
1. Pankreatitis
2. Hematoma hati atau spleen
3. Metastase pada liver, pankreas, ginjal dan soleen
4. Nefroblastoma
5. Abses
c. Kontra Indikasi
1. Alergi terhadap bahan kontras
2. Kadar ureum dan kreatinin tinggi
3. Hidronefrosis
4. KUB
d. Media Kontras
1. Iopamiro
2. Urografin
e. Persiapan Alat
1. Unit whole body CT-Scan
2. Processing film
3. Media kontras
4. Spuit 30 cc
5. Kapas alkohol
6. Neadle 21
7. Gelas dan sendok
8. Air minum 200-400 cc
9. Air mentah 200 cc
10. Obat anti Histamin
f. Persiapan Pasien
Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien memerlukan persiapan abdominalis terlebih dahulu, yaitu :
1. 1-2 hari sebelum pemeriksaan disarankan untuk tidak makan makanan yang berserat dan hanya makan bubur kecap.
2. Sebelumnya telah menjalani pemeriksaan laboratorium guna mengetahui kadar ureum dan kreatinin.
3. Malam hari sebelum pemeriksaan, pasien minum obat pencahar (urus-urus) untuk membersihkan usus.
4. Pasien tidak boleh makan sebelum pemeriksaan selesai.
g. Prosedur Pemeriksaan
1. Pasien diminta ganti baju dengan baju pasien.
2. Pasien supine di atas meja pemeriksaan.
3. Pemasukan media kontras
Media kontras yang pertama dimasukkan melalui oral dengan perbandingan 1 : 20 dengan tujuan sebagai marker. Kemudian pemasukan media kontras yang kedua melalui intravena sesuai aturan.
h. Scan Parameter
1. Arus tabung : 110 mA
2. Tegangan tabung : 120 KV
3. Scan field : 390 mm
4. Scan time : 2,7 – 4,5 second
5. Interval : 10 – 15 mm pada daerah yang . : normal 5 – 8 mm pada daerah
kelainan
6. Range : Diafragma sampai krista illiaka
2.4.2 Teknik Pemeriksaan CT-Scan Pelvis / Lower Abdomen
Teknik pemeriksaan pelvis sering disebut dengan teknik pemeriksaan CT-Scan Lower Abdomen karena organ yang diperiksa adalah organ abdomen yang berada pada bagian bawah.
a. Pengertian
CT-Scan Pelvis adalah suatu pemeriksaan radiologi dengan menggunakan pesawat CT-Scan baik dengan atau tanpa menggunakan media kontras guna mengetahui kelainan atau penyakit pada organ yang berada dalam rongga pelvis.
b. Indikasi
1. Prostat
2. Ca Servik
3. Ca Ovari
4. Massa pada soft tissue dan sakit pada otot pelvis
5. Evaluasi hip joint
6. Abses
c. Kontra Indikasi
1. Alergi terhadap bahan kontras
2. Kadar ureum dan kreatinin tinggi
3. KUB
d. Media Kontras
1. Iopamiro
2. Urografin
e. Persiapan Alat
1. Unit whole body CT-Scan
2. Processing film
3. Media kontras
4. Spuit 30 cc
5. Kapas alkohol
6. Neadle 21
7. Gelas dan sendok
8. Air minum 200-400 cc
9. Air mentah 200 cc
10. Obat anti Histamin
f. Persiapan Pasien
Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien memerlukan persiapan abdominalis terlebih dahulu, yaitu :
1. 1-2 hari sebelum pemeriksaan disarankan untuk tidak makan makanan yang berserat dan hanya makan bubur kecap.
2. Sebelumnya telah menjalani pemeriksaan laboratorium guna mengetahui kadar ureum dan kreatinin.
3. Malam hari sebelum pemeriksaan, pasien minum obat pencahar (urus-urus) untuk membersihkan usus.
4. Pasien tidak boleh makan sebelum pemeriksaan selesai.
g. Prosedur Pemeriksaan
1. Pasien diminta ganti baju dengan baju pasien.
2. Pasien supine di atas meja pemeriksaan.
3. Pemasukan media kontras
Pertama pemasukan media kontras lewat intravena dengan media kontras sesuai dengan aturan. Kemudian pemasukan media kontras yang dicampur dengan air lewat rectal dengan menggunakan cat├ęter.
h. Scan Parameter
1. Arus tabung : 110 mA
2. Tegangan tabung : 120 KV
3. Scan field : 390 mm
4. Scan time : 2,7 – 4,5 second
5. Interval : 10 – 15 mm pada daerah yang
: normal 5 – 8mm pada daerah
: kelainan
6. Range : krista illiaka hingga simphisis pubis
i. Foto Sebelum dan Sesudah Pemasukan Media Kontras
Pada kasus tumor massa, dibuat foto sebelum dan sesudah pemasukan media kontras.
2.4.3 Irisan Axial Abdomen
Lima contoh irisan axial CT-Scan dari abdomen ditunjukkan dengan 10 mm slice thicknes. Pemeriksaan yang diperoleh menggunakan 50 cc bolus injeksi yang mengikuti 100 cc drip infus dari kontras intravena. Persiapan untuk kontras oral dengan water-soluble selalu disiapkan.
1. Irisan Axial 1
clip_image010Irisan Axial 1 untuk memperlihatkan bagian atas liver. Liver dibagi menjadi dua lobus, lobus kanan dan lobus kiri.
Gambar 3 : Irisan Axial 1 (Bontrager, 2001)
Keterangan :
A. Lobus kanan liver
B. Lobus kiri liver
C. Lambung
D. Lambung (fundus dan bagian atas daerah lambung)
E. Spleen
F. Vertebre Thoracal 10 dan Vertebre Thoracal 11
G. Aorta abdominal
H. Vena Cava Inferior
2. Irisan Axial 3
clip_image012Irisan Axial 3 adalah bagian yang menunjukkan pancreatic tail. Penampakan yang sempurna dari adrenal gland adalah bentuk menyerupai V terbalik.
Gambar 4 : Irisan Axial 3 (Bontrager, 2001)
Keterangan :
A. Lobus kanan liver dari posterior
B. Kantong empedu
C. Lobus kiri liver
D. Lambung
E. Kolon desenden
F. Ekor pankreas
G. Spleen
H. Bagian atas lobus kiri ginjal
I. Kelenjar adrenal sebelah kiri
J. Vetebra Thoracal 11 – Thoracal 12
K. Vena Cava Inferior
L. Bagian atas lobus kanan ginjal
3. Irisan Axial 5
Irisan Axial 5 melihat bagian ke dua duodenum. Kepala pankreas terletak di luar dari duodenum. Jika bagian ke dua duodenum terlihat putih, maka dapat dikatakan tumor pankreas.
clip_image014
Gambar 5 : Irisan Axial 5 (Bontrager, 2001)
Keterangan :
A. Lobus kanan liver
B. Kantong empedu
C. Bagian ke dua duodenum
D. Lobus kiri liver
E. Lambung (pylorus)
F. Jejenum
G. Kolon desenden
H. Ginjal kiri
I. Aorta Abdominal
J. Vetebra Lumbal I
K. Vena Cava Inferior
L. Kepala pancreas
4. Irisan Axial 7
Pada irisan axial 7 mengambil mid portion ginjal. Ini adalah penampakan sempurna dari renal pelvis kanan dan kiri.
clip_image016
Gambar 6 : Irisan Axial 7 (Bontranger, 2001)
Keterangan :
A. Inferior lobus liver
B. Pankreas
C. Kandung empedu
D. Kolon (asenden dan tranversum)
E. Jejenum
F. Kolon desenden
G. Renal pelvis ginjal kiri
H. Aorta Abdominal
I. Vetebra Lumbal I
J. Vena Cava Inferior
5. Irisan Axial 8.
Irisan axial 8 menunjukkan 2 cm kaudal pada renal pelvis dari ginjal dan menunjukkan kontras mengisi ureter medial dari ginjal.
clip_image018
Gambar 7 : Irisan Axial 8 (Bontranger, 2001)
Keterangan :
A. Inferior lobus liver
B. Kolon asenden
C. Vena Cava Inferior
D. Aorta
E. Jejenum
F. Kolon desenden
G. Ginjal kiri
H. Ureter kiri
I. Vertebra Lumbal 2- lumbal 3
J. Muskulus psoas major
2.5 Media Kontras (dalam Pemeriksaan CT-Scan Abdomen)
Media kontras dimasukkan melalui mulut dan rectum untuk pemeriksaan CT-Abdomen dan pelvis Media kontras melalui oral bertujuan untuk melihat atau membedakan organ pada tractus gastrointestinal.
Media kontras oral diberikan sebelum pemeriksaan. Ada 3 (tiga) tingkatan media kontral oral diberikan pada pasien :
1) Malam hari sebelum pemeriksaan.
2) Satu jam sebelum pemeriksaan.
3) Di tengah-tengah sebelum pemeriksaan.
Ada 2 (dua) tipe kontras untuk menunjukkan opasitas pada tractus gastromtestinal yaitu barium sulfat suspensions dan water soluble solution (diatrizoate meglumine atau diatrizoate sodium) (Bontrager, 2001).
2.6 Proteksi Radiasi
Proteksi radiasi untuk pemeriksaan CT-Scan yang harus diperhatikan adalah ruangan pemeriksaan harus tertutup rapat pada saat pemeriksaan berlangsung karena radiasi yang dihasilkan sangat besar dan dinding dari ruangan pemeriksaan maupun ruang operator harus dilapisi timbal agar radiasi tidak tembus. Sehingga akan mengurangi dosis bagi petugas radiologi. (Batan, 1995)
2.7 Pengolahan Film
Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang berbentuk emulasi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui proses kimia. (Jenkin, D, 1980)
Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan kecepatan tatap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari proses manual sehingga waktunya lebih cepat.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Dari hasil pengamatan yang penulis lakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum ialah pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan menggunakan media kontas Iopamiro. Pemeriksaan ini dilakukan pada penderita yang dicurigai menderita nefroblastoma/kanker ginjal.
Dalam bab ini penulis akan membahas tentang pelaksanaan pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan mengambil data dari Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr.., yang meliputi : paparan kasus dan riwayat penyakit pasien, persiapan penderita, persiapan alat, teknik pemeriksaannya, proteksi radiasi serta pengolahan film.
3.1.1 Paparan Kasus dan Riwayat Penyakit Pasien
Dalam laporan ini penulis menggunakan laporan kasus dari pemeriksaan pada tanggal 2 November 2009 dengan identitas pasien sebagai berikut :
Nama : An. I
Umur : 3 th 10 bln
Jenis Kelamin : permpuan
Alamat : Doplang adipal cilacap
No. ID : 39985
No RM : 00.44.27.03
No. Foto : CT. 39981/82
Dr. Pengirim : dr.Baig
Permintaan Foto : CT-Scan Upper dan lower Abdomen Dengan Kontras
Berat badan : 12 kg
Dengan Riwayat Penyakit :
Dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun lebih, pasien merasakan nyeri pada perut. Lalu pasien tersebut dibawa kedukun oleh ibunya dari sana ternyata diperut pasien tersebut terdapat Benjolan yang terasa sekali bila dipegang setelah itu lalu ibunya membawa pasien tersebut ke puskesmas terdekat. Dari puskesmas tersebut langsung dirujuk kerumah sakit cilacap jawa barat, kemudian pasien di periksa oleh dokter umum, dikatakan ada massa pada intra abdomen kemudian pasien tersebut akhirnya langsung dirujuk kerumah sakit Umum pusat Dr.. dan disarankan untuk CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan kontras.
3.1.1. Prosedur Pemeriksaan
Prosedur pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan menggunakan kontras pada kasus nefroblastoma,di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat dr.sardjito memerlukan persiapan alat dan bahan persiapan pasien. Pasien datang ke Instalasi Radiologi kemudian mendaftar ke loket pendaftaran. Selanjutnya menunggu panggilan untuk pemeriksaan.
3.1.2. Persiapan Alat dan Bahan
Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan kontras pada kasus nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat Dr,. adalah sebagai berikut :
1. Peralatan
    1. Pesawat CT Scan jenis spiral whole body produksi shimadzu seri SCT – 4800 TFZ.
clip_image020 clip_image022
Gambar Pesawat CT Scan
clip_image024 clip_image026
Gambar Monitor CT Scan
    1. Baju dan selimut pasien
    2. Oxigen dan tensi meter, bengkok
    3. Alat fiksasi ,Alat immobilisasi
    4. Standar infuse
    5. apron
b . bahan - bahan
1) Media kontras : non ionik berupa lopamiro 300, 100 ml
2) Abbocath
3) Spuit 20 cc
4) Kasa alkohol
5) Infus Dextrose 5 % - 100 ml
6) Selang infus
7) Gelas
8) Wing needle 21
9) Plester
10) Stiwing
11) Air putih 400 cc
12) Obat anti histamin
3.1.3. Persiapan Pasien
- Persiapan pasien untuk pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan kontras pada kasus nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat Dr.. adalah :
a. Satu hari sebelum pemeriksaan pasien hanya boleh makan bubur dan tidak boleh makan makanan yang banyak mengandung serat.
b. Sebelum pemeriksaan pasien harus periksa ke laboratorium untuk mengetahui kadar ureum dan kadar kreatinin.
c. Lima belas menit sebelum pemeriksaan pasien minum 10 cc iopamiro dicampur air satu gelas (200 cc).
d. Malam hari kira-kira jam 20.00 pasien diberi obat pencahar berupa garam Inggris 30 gr.
e. Pasien dilarang makan sebelum pemeriksaan selesai.
- Persiapan saat pemeriksaan
a. Pasien ganti baju dengan baju pasien
b. Pasien melepas semua benda yang dapat mengakibatkan artefak, misalnya baju, resleting, peniti, dll.
3.1.4. Teknik Pemeriksaan
Teknik pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan diagnosa Tumor nefroblastomadi Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr.. adalah sebagai berikut:
a. Posisi Pasien
1. Supine dengan head first
2. Kedua tangan dikeataskan di samping kepala, diberi selimut dan alat fiksasi yang telah tersedia
3. Pasien diposisikan sehingga mid sagital plane (MSP) tubuh sejajar dengan lampu indikator longitudional
4. Ketinggian tubuh pasien diatur dari titik pertemuan lampu indikator longitudional dan lampu indikator horisontal pada mid axillary line setinggi diafragma
5. Pasien diinformasikan jangan bergerak saat pemeriksaan berlangsung.
  1. Pemasukan media kontras
Media kontras yang digunakan adalah kontras non ionik berupa Iopamiro 300 mg/50 cc. dimana pemasukan media kontras dilakukan sebanyak dua kali, karena pasien yang diperiksa adalah anak-anak maka pemberian media kontras yang pertama dilakukan melalui oral pemberian kontras yang pertama dimulai + 15 menit sebelum pemeriksaan berlangsung, yakni dengan iopamiro sebanyak 10 cc yang telah dicampur dalam 400 cc air putih lalu diminum.
  1. Melengkapi Registrasi data pasien meliputi :
Nama, umur, no foto dan no rekam medik, diagnosis, jenis kelamin, nama operator. Nama dokter radiologi jenis pemeriksaan, posisi dan arah pandang (top view/botton view).
  1. Pembuatan scanogram CT Scan abdomen dengan batas atas prosesus Xiphoideus dan batas bawah simpis pubis dengan potongan axial
  2. Pembuatan potongan irisan scanogram mulai dari Xiphoideus simpisis pubis dengan ketebalan irisan 10 mm
  3. Lakukan scanning non kontras
  4. Pemasukan media kontras dengan iopamiro 300 mg /50cc sebanyak 15 cc melalui intravena.
  5. Lakukan scanning kembali untuk fase kontras sebanyak scanning fase non kontras yang telah diprogram sebelumnya dengan cara merubah item non kontras menjadi kontras pada layar monitor panel operasi.
Scan parameternya adalah :
1. Scanogram abdomen.
2. Range : 1 range (dari Xiphoideus sampai ke simpisis . pubis)
3. Slice thickness : 10 mm
4. Fov : dipilih sesuai ukuran pasien
5. Gantry Tilf : 00
6. Scanning : 120 kV, 100 mAs
7. Window width : window body ( 280–290HU)
8. window level : window body(40- 50 HU)
3.1.5. Proteksi Radiasi
Oleh karena adanya efek negatif yang ditimbulkan oleh sinar-X, maka perlu sekali setiap petugas memperhatikan proteksi radiasi baik terhadap pasien, petugas itu sendiri serta masyarakat umum yang berada di sekitar ruang pemeriksaan.
Di Instalasi Radiologi Sakit Umum pusat Dr.sardjito yoogyakarta , usaha-usaha yang dilakukan untuk proteksi radiasi adalah sebagai berikut :
a. Pemeriksaan hanya dilakukan atas permintaan dokter.
b. Mengusahakan agar tidak terjadi pengulangan scan.
c. Pintu kamar pemeriksaan dipastikan tertutup dan terkunci pada saat penyinaran karena radiasi yang dihasilkan oleh pesawat CT-Scan sangat besar, dan dinding dilapisi timbal 2 mm Pb.
d. Selama melakukan penyinaran semua petugas berdiri di belakang panel kontrol atau di tempat yang terlindung dari radiasi dan mengawasi pasien melalui jendela kaca timbal.
e. Selama penyinaran berlangsung, tidak boleh ada orang lain di dalam kamar pemeriksaan.
f. Apabila diperlukan seseorang untuk membantu penderita selama penyinaran dilakukan, ia harus memakai baju proteksi radiasi (apron).
3.1.6. Pengolahan Film
Untuk menampakkan bayangan laten yang terbentuk pada emulsi film sesudah ekspose menjadi bayangan nyata dibutuhkan pengolahan film di kamar gelap. Pengolahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara manual dan otomatik.
Pengolahan film CT-Scan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat Dr.. secara otomatis. Setelah penyinaran, gambar dipindah ke dalam alat print lalu diprint. Setelah itu film dibawa ke kamar gelap untuk dilakukan pencucian film dengan menggunakan mesin pencuci otomatis.
Pengolahan film adalah mengubah bayangan laten yang terbentuk emulsi film selama eksposi diubah menjadi bayangan berbentuk perak melalui proses kimia.
Pengolahan film secara otomatis adalah proses pengolahan film dengan sistem transportasi film yang dilanjutkan oleh roller yang bekerja dengan kecepatan tetap. Dalam pengolahan film secara otomatis menggunakan konsentrasi larutan dan suhu yang tinggi dari pada proses manual sehingga waktunya lebih cepat.
3.1.7. Hasil pembacaan CT-Scan
URAIAN HASIL PEMERIKSAAN
Dilakukan pemerisaan CT-Scan upper-lower abdomen potongan tegak lurus sumbu tubuh interval slice 10 mm memakai marker oral iopamiro 10 cc dalam 400cc air dan kontras IV iopamiro 300mg/50cc pda pasien dengan diagnosis klinis masa abdomen hasil :
UPPER ABDOMEN
- Hepar: ukuran dan densitas normal ,permukaan licin ,tepi tumpul.ta` tampak lesi hipo/hiperdens, sistema bilier dan vaskuler intrahepatal tak prominen,post kontras tak tampak peningkatan densitas parenkim hepar.
- Lien : Ukuran dan densitas normal ,tak tampak lesi hiperdens/hipodens,hillus lienalis tak prominen.post kontras tampak peningkatan densitas parenkim lien .
- Pancreas : (caput pancreas tertutup masa) .letak,ukuran dan densitas normal,tak tampak lesi hiperdens/hipodens,ductus pancreatikus tak melebar.
- Ren dextra : tampak lesi densitas soft tissue inhomogen,bentuk nefrifrom batas tegas,dengan central necrotik dan klasifikasi. Cortek ren dextra masih tampak dengan bentuk claw hand.HU: 35.9.(slice 7-17) yang meluas kemedial kepaorta dan pericaval. post kontras tampak slight enhance.
- Ren sinistra : Letak,Ukuran dan densitas normal, Tak tampak lesi hiperdens/hipodens.SPC tak melebar, post kontras SPC terisi kontras.
- Tak tampak pembesaran limfonodi paraaorta.maupun mesentrica
LOWER ABDOMEN
- VU : terisi kontras.dinding licin,tak tampak lesi hipodens/ hiperdens
- Rectum : Tampak terisi marker air.Tak tampak massa, peri rectal fat baik
- Tak tampak pembesaran limphoodi iliasi
KESAN
1. Massa tumor di ren dextra dengan sentral serta klasifikasi sangat mungkin wilms tumor yang meluas kemeluas kemedial kepaorta dan pericaval.
2. Tak tampak kelainan hepar .VF.Pancreas.Ren sinistra.vu maupun Rectum.
3. Tak tampak limphadenopati paraaortisi,maupun mesenteric serta para iliasi.
Yogyakarta . 04 November 2009
Pemeriksa/ residen
Putu patriawa. Dr
3.2. Pembahasan
Berikut ini penulis sampaikan beberapa pendapat mengenai pelaksanaan pemeriksaan.
Teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen pada diagnosa nefroblastoma yang dilakukan pada Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat dr.sardjito yoyakarta adalah pemeriksaan CT-Scan Upper dan Lower Abdomen dengan teknik pemeriksaan yang digunakan adalah proyeksi Antero Posterior axial Abdomen, dan proyeksi Antero Posterior axial Post kontras.kemudian. pengambilan ekspose (scanning) yang dilakukan adalah dua kali yakni setelah pemasukan media kontras melalui oral dan yang kedua dengan intravena .
Media kontras yang digunakan pada pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan diagnosa nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat dr.. adalah kontras non ionik berupa Iopamiro 300 mg/50 cc. dimana pemasukan media kontras dilakukan sebanyak dua kali, yakni secara oral dan intra vena, pemberian kontras yang pertama dimulai + 15 menit sebelum pemeriksaan berlangsung, yakni dengan iopamiro sebanyak 10 cc yang telah dicampur dalam 400 cc air putih biasa dan dimasukkan melalui oral (diminum).dan yang kedua yakni melalui intravena dgn iopamiro sebanyak 300 mg/50 cc sebanyak 15 cc dengan menggunakan spuit 20 cc yang dilakukan setelah scan pertama slesai dilakukan.
Setiap pemasukan media kontras memiliki tujuan yang berbeda. Tahap pertama bertujuan untuk untuk melihat atau membedakan organ pada tractus digestivus. sedangkan tahap kedua bertujuan untuk melihat kelainan pada sistem yang berhubungan dengan peredaran darah dan juga pada organ-organ traktus urinarius .
Besarnya interval yang digunakan tergantung besarnya obyek yang akan diperiksa. Pada pemeriksaan CT-Scan Abdomen dengan diagnosa nefroblastoma yang dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat dr.. ini menggunakan interval (slice)10 mm .baik pada CT-Scan Upper maupun Lower Abdomen, dengan jumlah sebanyak 17 slice/irisan. Penggunaan interval 10 mm memiliki beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah dapat mengurangi dosis radiasi yang diterima pasien serta mengurangi beban pesawat karena penggunaan slice yang lebih sedikit. Sedangkan kerugiannya adalah karena penyamarataan interval pada daerah yang ada kelainannya akan menghasilkan radiograf yang kurang informative karena detail yang dihasilkan kurang bagus.
Tetapi hasil radiograf yang dihasilkan dari pemeriksaan CT-Scan Abdomen (pada diagnosa nefroblastoma ) dengan menggunakan teknik tersebut sudah cukup informative guna mendukung dalam mendiagnosa suatu penyakit.



BAB IV
PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas tentang pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan kontras pada kasus nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit umum pusat dr.. , maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. CT-Scan Abdomen adalah suatu pemeriksaan radiologi dengan menggunakan pesawat CT-Scan baik dengan atau tanpa menggunakan media kontras guna mengetahui kelainan atau penyakit pada organ yang berada dalam rongga abdomen.
2. Teknik pemeriksaan CT-Scan Abdomen pada diagnosa nefroblastoma yang dilakukan pada Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr.. adalah pemeriksaan CT-Scan Upper dan Lower Abdomen, dengan teknik pemeriksaan yang digunakan adalah proyeksi Antero Posterior axial Polos Abdomen, dan proyeksi Antero Posterior axial Post kontras.
3. pengambilan scaninng yang dilakukan adalah dua kali yakni setelah pemasukan media kontras melalui oral dan yang ke dua melalui intra vena .
4. Media kontras yang digunakan pada pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen dengan diagnosa nefroblastoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum pusat Dr.. adalah kontras non ionik berupa Iopamiro 300 mg/50 cc.
5. Pemasukan media kontras Iopamiro 300 mg/50 cc sebanyak 10 cc yang telah dicampur dalam 400cc air putih. + 15 menit sebelum pemeriksaan berlangsung dan dimasukkan melalui oral (diminum).dan yang kedua yakni melalui intravena dgn iopamiro 300 mg/50 cc sebanyak 15 cc yang dilakukan setelah scan pertama slesai dilakukan.
6. Tiap-tiap tahap pemasukan media kontras memiliki tujuan yang berbeda. Tahap pertama bertujuan untuk untuk melihat atau membedakan organ pada tractus digestivus. sedangkan tahap kedua bertujuan untuk melihat kelainan pada sistem yang berhubungan dengan peredaran darah dan juga pada organ-organ traktus urinarius .
6.1. Saran
1. Sebaiknya pada pemeriksaan CT-Scan upper dan lower Abdomen pada Kasus Nefroblastoma di Instalasi Radiologi Dr.. dilakukan dengan memakai media kontras dalam jumlah yang tepat agar hasil yang didapat lebih maksimal.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1986. Tehnical Guide Whole Body X-Ray System. Hitachi Medical Corporation. Tokyo.
Ballinger, PW. 1995. Radiographic Position and Procedures. Volume Two Eighth and Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.
Bontrager, KL. 2001. Texbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy. Fifth Edition. CV. Mosby. Strategi. Louis. London.
Mulyasih, Sri. 1999. Kalibrasi Computed Tomography Scanner Menggunakan Phantom. Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Diponegoro. Semarang.
Syaifuddin, B.A.C. 1997. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi ke-2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta.
Pearce, E.C. 1999. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Edisi ke-19 PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta.
Rasad, Sjahriar. 1998. Radiologi Diagnostik. Sub Bagian Radiodiagnostik Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Gaya Baru. Jakarta.
Wegener, OII. 1982. Tehnique of Computerized Tomography in Whole Body Computerized Tomography. Associated With Schering Corp. Kenil Worth. USA.
LAMPIRAN
clip_image028
(Gambar 01)
hasil radiograf dengan kontras oral
clip_image030
(Gambar 02)
hasil radiograf dengan kontras Intra vena





























































































































































































































































































































































































































































































































































































Artikel Terkait

Study Kasus Pada Pemeriksaan Radiology dengan ct scan pada kasus nefroblastoma
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email